Makalah Penulisan Naskah Komunikasi Klik Materi Dibawah ini.
Hasyim Ali Imran[1]
Abstract
This paper discusses the existence of communication theories by focusing on
epistemology. It describes the complexity of the theories that makes beginners
of communication students often find difficulties to understand the theories.
Kata-kata Kunci : Teori komunikasi;
asumsi filosofis dan
epistemologi.
Latar
Belakang dan Permasalahan
Sebagai salah satu sisi
dalam kehidupan manusia, aktifitas komunikasi itu dikatakan akademisi
komunikasi sebagai aktifitas vital dalam kehidupannya. Komunikasi sangat
berakar dari perilaku manusia dan struktur masyarakat yang sangat sulit untuk
dapat memaknai bahwa peristiwa-peristiwa sosial dan perilaku terjadi tanpa
komunikasi[2]. Soesanto mensinyalirnya sebagai aktifitas yang dilakukan manusia sebanyak
90 % dalam kehidupan sehari-hari. Cangara[3]yang mengklaim sebagai penilaian dari banyak pakar, mengatakan bahwa
komunikasi adalah sebagai suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi
seseorang dalam hidup bermasyarakat. Menurut Schram
komunikasi dan masyarakat merupakan dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan
satu sama lainnya. Tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk,
sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan
komunikasi[4].
Melihat dua pendapat tadi
kiranya menyiratkan kalau komunikasi itu sebagai aktifitas penting bagi setiap
orang dalam kehidupannya dengan sesama dalam rangka kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, komunikasi itu antara lain dapatlah diartikan sebagai suatu aktifitas yang terjadi di antara sesama
manusia yang berfungsi sebagai penghubung di antara mereka dengan cara
melakukan penyampaian pesan berupa lambang verbal dan non verbal yang artinya
diusahakan dapat dimaknai secara bersama. Sebagai sebuah fenomena
kemanusiaan, maka komunikasi antar manusia yang disebut Littlejohn dengan human
communication itu, proses keterjadiannya muncul pada beberapa bentuk atau tingkatan. Bentuk atau
tingkatan yang sebelumnya diistilahkan Littlejohn dengan setting/konteks
komunikasi yang terdiri dari konteks interpersonal, group, organization dan
mass[5], itu kemudian diubahnya menjadi lima tingkatan, yakni meliputi : 1-interpersonal,
2-group, 3-public or rhetoric, 4-organizational
dan 5- mass. [6]
Fenomena komunikasi di antara sesama umat manusia yang terjadi dalam lima level itu, masing-masing memiliki
problemanya sendiri yang begitu kompleks. Guna memahaminya, diperlukan
pemikiran yang relatif serius.Terkait dengan kekompleksitasan itu, karenanya banyak
akademisi dari lintas disiplin ilmu yang tertarik dan menuangkan keseriusannya
terhadap fenomena human communication. Sebuah fenomena yang belakangan
dikenal menjadi obyek forma dari suatu ranting ilmu sosial yang disebut dengan ilmu
komunikasi.
Bagi ilmu komunikasi sendiri, latar belakang yang bersifat
multi disipliner tadi, mengandung banyak konsekuensi. Konsekuensinya antara
lain berupa munculnya beragam teori yang dirumuskan menurut beragam perspektif.
Karenanya, konsekuensi ragam perspektif ini menjadi perlu mendapat perhatian
dalam kaitan pemanfaatan suatu teori komunikasi untuk menjadikannya sebagai
kompas dalam menelaah suatu fenomena komunikasi pada setiap level
keterjadiannya.
Berdasarkan pengamatan, eksistensi perspektif itu masih
relatif sering dijumpai pengabaiannya oleh kalangan akademisi. Bentuk
pengabaian itu, entah karena disadari atau tidak, antara lain berupa pengacuan
teori yang tidak relevan dengan paradigma penelitian yang diterapkan dalam
suatu penelitian. Wujud lainnya, dan ini mungkin yang paling kerap terlihat di
kalangan akademisi, yakni saling mempertentangkan pendekatan kuantitatif dan
kualitatif. Padahal, seyogyanya ini merupakan hal yang kurang perlu, sehubungan
eksistensi keduanya masing-masing telah diakui di kalangan akademisi.
Tulisan ini sendiri tidak bermaksud untuk mengarahkan pada
keunggulan teori pada suatu perspektif tertentu. Akan tetapi, dengan mengacu
pada percikan fenomena aplikasi teori yang relatif keliru dalam kepentingan
akademik tadi, maka tulisan ini hanya bermaksud sebatas pada upaya menelaah eksistensi teori komunikasi menurut asumsi
filofisnya saja, dan itupun terfokuskan pada komponen epistemologis.
Dengan telaah dimaksud, diharapkan dapat terwujud kejernihan dalam memaknai
teori, terutama terkait dengan kepentingan penggunaannya dalam pelaksanaan
penelitian.
Epistemologi dan Asumsi
Filosofis
Memahami
eksistensi teori komunikasi dalam konteks upaya pemberdayaannya sebagai kompas
dalam menelaah fenomena komunikasi, maka yang lazim dilakukan dalam dunia
akademik antara lain dilakukan dengan cara mengetahui dan memahami
konsep-konsep yang terkandung di dalam suatu teori komunikasi. Akan tetapi,
upaya ini saja secara relatif masih belum memadai karena masih belum mampu
memberikan gambaran keseluruhan tentang hakikat suatu konsep dalam sebuah
teori. Terutama ini dalam kaitannya dengan “siapa pencetusnya”, yang nota bene
ini akan sangat mempengaruhi warna perspektifnya dalam menteorisasi
suatu fenomena. Terlebih lagi jika disadari bahwa komponen konsep itu hanya
merupakan salah satu saja dari empat komponen yang ada dalam suatu teori. Komponen
lainnya, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, yaitu mencakup komponen asumsi
filosofis,[7],
penjelasan[8]
dan prinsip[9].
Jadi, upaya memahami suatu teori secara utuh, tampaknya antara lain dapat
dilakukan dengan baik melalui upaya pemahaman terhadap masing-masing dari
keempat komponen dimaksud dalam suatu keseluruhan. Meskipun demikian, paper ini
tidak bermaksud untuk meninjau semua komponen dimaksud, melainkan hanya dibatasi
pada komponen asumsi filosofis melalui sub komponen epistemologis[10]. Dua sub komponen lainnya
pada komponen dimaksud, sebagaimana diketahui yakni terdiri dari sub komponen ontologi dan aksiologi.
Sebagai
salah satu dari tiga sub komponen yang ada dalam komponen asumsi filosofis, sub
komponen epistemologi dikenal
sebagai cabang philosophy yang mempelajari pengetahuan.
Epistemologi mencoba untuk menjawab pertanyaan mendasar : apa yang membedakan pengetahuan
yang benar dari pengetahuan yang salah. Secara praktis, pertanyaan-pertanyaan
ini ditranslasikan ke dalam masalah-masalah metodologi ilmu pengetahuan. Misalnya
seperti : how can one develop theories or
models that are better than competing theories?[11]Relatif
sejalan dengan ini, maka sebagai salah satu komponen dalam filsafat ilmu, epistemologi
disebutkan terfokus pada telaah tentang bagaimana cara ilmu
pengetahuan memperoleh kebenarannya, atau bagaimana cara mendapatkan pengetahuan
yang benar[12], atau how people know what they claim to know[13]. Jadi, dari sini tampaknya “how”
menjadi kata kunci dalam upaya menemukan “rahasia” dibalik kemunculan
konsep-konsep teoritis dalam suatu teori komunikasi. Banyak cara mungkin dapat
dilakukan dalam usaha menemukan esensi dari kata “how” tadi. Salah satunya yang
paling utama, mungkin menurut sejarah “epistemologi” itu sendiri.
Bila
ditinjau menurut sejarah epistemologi, maka terlihat adanya suatu kecenderungan
yang jelas mengenai bagaimana riwayat cara-cara menemukan kebenaran
(pengetahuan), kendatipun riwayat dimaksud memperlihatkan adanya kekacauan
banyak perspektif yang posisinya saling bertentangan. Teori pertama pengetahuan
dititikberatkan pada keabsolutannya, karakternya yang permanen[14]. Sedangkan teori berikutnya
menaruh penekanannya pada kerelativitasan atau situasi–ketergantungan,
kerelativitasan pengetahuan tersebut berkembang secara terus-menerus atau
berevolusi, dan pengetahuan secara aktif campur tangan terhadap the world dan
subyek maupun obyeknya. Secara keseluruhan cenderung bergerak dari suatu
ke-statis-an, pandangan pasif pengetahuan bergerak secara aktif ke arah
penyesuaian demi penyesuaian.
Dalam
pandangan filsuf Yunani, Plato, pengetahuan adalah hanya sebuah kesadaran
mutlak, universal Ideas or Forms., keberadaan bebas suatu subyek
yang perlu dipahami[15]. Pemikiran Aristotle
lebih menaruh penekanan pada metode logika dan empirik bagi upaya penghimpunan
pengetahuan, dia masih menyetujui pandangan bahwa pengetahuan seperti itu
merupakan sebuah pengertian dari prinsip-prinsip dan keperluan yang bersifat
universal. Mengikuti masa-masa Renaisans, terdapat dua epistemological
utama yang posisinya mendominasi filsafat, yaitu empiricism (empirisme)
dan rationalism (rasionalisme). Empirisme yaitu
suatu epistemologi yang memahami bahwa pengetahuan itu sebagai produk persepsi
indrawi. Sementara rasionalisme melihat pengetahuan itu sebagai sebuah produk
refleksi rasional.
Pengembangan
terbaru yang dilakukan empirisme melalui eksperimen ilmu pengetahuan telah berimplikasi
pada berkembangnya pandangan ilmu pengetahuan yang secara eksplisit dan implisit
hingga sekarang masih dipedomani oleh banyak ilmuwan. Pedoman dimaksud yaitu reflection-correspondence theory. Menurut pandangan ini
pengetahuan dihasilkan dari sejenis pemetaan atau refleksi obyek eksternal
melalui organ indrawi kita, yang dimungkinkan terbantu melalui alat-alat
pengamatan berbeda, menuju ke otak atau pikiran kita. Meskipun pengetahuan
tidak mempunyai keberadaan a priori, seperti dalam konsepsi Plato,
tetapi mesti dibangun dengan pengamatan, hal yang demikian karenanya masih mutlak
sifatnya. Ada teori penting yang diperkembangkan pada periode itu
yang layak untuk diikuti, yaitu menyangkut sintesa rasionalisme dan
empirismenya para pengikut Kant. Menurut Kant, pengetahuan itu dihasilkan dari pengorganisasian
data perseptual yang berdasarkan pada tatanan pengetahuan bawaan, yang disebutnya sebagai kategori. Kategori
mencakup ruang, waktu, obyek dan kausalitas. Epistemologi tersebut
menerima ke-subyektifitas-an konsep-konsep dasar, seperti ruang dan waktu, dan
ketidakmungkinan untuk menjangkau kemurnian representasi objektiv dari sesuatu
dalam dirinya. Jadi kategori a priori masih tetap bersifat statis atau given.[16]
Tahap
berikutnya dari perkembangan epistemologi disebut pragmatis. Bagian-bagian dari
perkembangan dimaksud dapat dijumpai pada masa-masa mendekati awal abad dua
puluh, misalnya seperti logika positivisme, konvensionalisme, dan mekanika
kuantum menurut "Copenhagen interpretation”. Filsafat ini masih
mendominasi kebanyakan cara kerja ilmiah dalam cognitive science dan artificial
intelligence.
Menurut
epistemologi pragmatis, pengetahuan terdiri dari model-model yang mencoba
merepresentasikan lingkungan sedemikian rupa guna penyederhanaan secara maksimal
pemecahan masalah. Pemahaman demikian karena diasumsikan bahwa tidak ada model
yang pernah bisa diharapkan untuk mampu menangkap semua informasi yang relevan,
dan sekalipun model yang lengkap seperti itu ada, model tersebut mungkin akan
sangat rumit untuk digunakan dalam cara praktis apapun. Karena itu kita harus
menerima keberadaan kesejajaran model-model yang berbeda, sekalipun model-model
dimaksud mungkin terlihat saling bertentangan. Model yang akan dipilih
tergantung pada masalah yang akan dipecahkan. Ketentuan dasarnya adalah bahwa
model yang digunakan sebaiknya menghasilkan perkiraan (melalui pengujian) yang
benar (atau approximate) atau problem-solving,
dan sesederhana mungkin. Pertanyaan lebih jauh yaitu menyangkut tentang the “the Ding an Sich” atau realitas di balikmodel adalah tidak bermakna[17]
Epistemologi
pragmatis tidak memberikan jawaban jelas terhadap pertanyaan mengenai asal-usul pengetahuan atau model.
Ada asumsi tersirat bahwa model dibangun dari bagian-bagian model lain dan data
empiris yang perolehannya didasarkan pada prinsip coba-coba-salah dilengkapi
dengan beberapa heuristics atau ilham. Pandangan yang lebih radikal
ditawarkan oleh para penganut constructivism. Kalangan ini mengasumsikan
bahwa semua pengetahuan dibangun dari serpihan-serpihan pengetahuan yang
dimiliki subyek Tidak ada sesuatu yang 'given',
data atau fakta empiris yang obyektif, kategori-kategori bawaan sejak lahir
atau struktur-struktur kognitif. Gagasan korespondensi atau
refleksi realitas eksternal karenanya menjadi sesuatu hal yang ditolak. Karena
kekurangan hubungan di antara model dan hal yang mereka representasikan ini,
maka bahayanya bagi constructivism adalah bahwa mereka mungkin cenderung
menjadi relativisme, karena dengan keyakinan mereka bahwa semua pengetahuan itu
dibangun dari serpihan-serpihan pengetahuan subyek, maka cara untuk membedakan
pengetahuan memadai atau 'sebenarnya' dari pengetahuan yang tidak cukup atau
'palsu', menjadi tiada.
Kita
bisa membedakan dua pendekatan yang mencoba menghindari 'kemutlakan
relativisme'. Pendekatan yang pertama disebut
konstruktivisme individual dan kedua konstruktivisme sosial. Konstruktivisme
individual mengasumsikan bahwa seorang
individu mencoba mencapai koherensi di antara perbedaan potongan-potongan
pengetahuan itu. Pembuatan atau pengkonstruksian yang tidak konsisten
dengan mayoritas pengetahuan lain akan menyebabkan individu jadi cenderung
untuk menolaknya. Pengkonstruksian yang berhasil dalam mengintegrasikan
potongan-potongan pengetahuan yang sebelumnya tidak bertautan (incoherent)
akan dipelihara.
Konstruktivisme
sosial memahami mufakat antara subyek berbeda sebagai ketentuan tertinggi untuk
menilai pengetahuan. 'Kebenaran' atau 'kenyataan' hanya akan diberikan terhadap
pengkonstruksian yang disetujui kebanyakan orang dari suatu kelompok
masyarakat. Dalam filsafat tersebut pengetahuan tampak sebagai sebuah hipotesis
‘realitas eksternal’ yang sangat independen. Sebagai ilmuwan constructivists
’radikal' Maturana[18] Satu-satunya kriteria
dasar ialah bahwa perbedaan mental entitas atau perbedaan proses kejiwaan di
dalamnya atau di antara individu-individu sebaiknya menjangkau semacam
keseimbangan.
Melalui
pendekatan Konstruktivis tampak penekanannya lebih banyak pada soal perubahan
dan sifat relatif dari pengetahuan, dan cara-cara mereka yang mengunggulkan
kesepakatan sosial atau koherensi internal dalam menemukan kebenaran, ini
menyebabkan mereka tetap masih memiliki ciri yang absolut. Melalui cara ini dianggap
bahwa pengetahuan itu dikonstruksikan oleh subjek atau kelompok subjek dalam
rangka menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam arti luas[19]
Pengkonstruksian itu merupakan sebuah proses yang terus berkelanjutan pada
tingkatan-tingkatan yang berbeda, baik secara biologis maupun psikologis atau
sosial. Pengkonstruksian terjadi melalui variasi potongan-potongan pengetahuan dan
retensi selektif kombinasi baru itu yang dengan cara tertentu mempengaruhi
kemampuan bertahan hidup dan reproduksi-subyek di lingkungan tertentu[20] Dalam kaitan ini, maka
bentuk kemutlakan atau ke-permanen-an apapun sudah hilang dalam pendekatan ini.
Namun demikian, sebagaimana dikatakan Heylighen, knowledge is basically still a passive instrument
developed by organisms in order to help them in their quest for survival.
Pendekatan
paling baru terkait epistemologi, dan mungkin ini pendekatan yang lebih
radikal, yaitu kalangan ilmuwan yang memandang bahwa ilmuwan itu harus membuat pengetahuan itu secara aktif
dalam mencapai tujuannya sendiri. Pengetahuan itu dibuat harus mampu aktif
untuk mencapai cita-citanya sendiri. Pendekatan epistemologi ini disebut memetics[21].
Memetics mencatat bahwa pengetahuan bisa ditransmisikan dari satu
subyek kepada subyek lainnya, dan dengan cara demikian kehilangan
ketergantungannya pada individu tunggal manapun. Sepotong pengetahuan yang bisa
ditranmisikan atau ditiru dengan cara sedemikian rupa disebut 'meme' (dibaca
: -meem-mim). The death of an
individual carrying a certain meme now no longer implies the elimination of
that piece of knowledge, as evolutionary epistemology would assume. Sepanjang
meme menjalar lebih cepat sampai ke pengangkut baru, setelah itu alat
pengangkutnya mati, maka meme akan tetap berkembang biak,
sekalipun pengetahuan itu menyebabkan
dalam diri individu pengangkut manapun, kemungkinan sama sekali tidak mampu dan
juga berbahaya bagi kelangsungan hidupnya.[22]
Dalam
pandangan ini, sepotong pengetahuan mungkin berhasil baik jika memiliki banyak alat pengangkut[23] sekalipun
mungkin prediksinya salah sama sekali, sejauh pengetahuan tersebut cukup
meyakinkan bagi para individu yang berperan sebagai pengangkut baru
pengetahuan[24].
Di sini tampak gambaran di mana subyek pengetahuan pun sudah kehilangan
keunggulannya sendiri, dan pengetahuan menjadi kekuatan dirinya dengan tujuan
dan cara yang sesuai untuk mengembangkan diri. Pengetahuan dalam pengertian
dimaksud, dalam kenyataan dapat diilustrasikan
melalui banyaknya takhyul, cerita-cerita iseng, dan kepercayaan-kepercayaan
tak masuk diakal yang telah merambah ke seluruh dunia, dan terkadang dengan
kecepatan yang luar biasa.
Seperti
halnya social constructivism, maka memetics perhatiannya juga
tertarik pada komunikasi dan proses sosial dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun dalam memandang pengetahuan sebagai hasil konstruksi sistem sosial, memetic
lebih melihat sistem sosial itu sebagai sesuatu yang dikonstruksikan oleh
proses pengetahuan. Memang, satu kelompok sosial bisa didefinisikan melalui fakta
bahwa semua anggotanya membagikan meme
yang sama. Konsep 'self' -pun ', yaitu konsep yang membedakan seseorang sebagai
seorang individu (a person as an individual), bisa dipertimbangkan
sebagai sebuah potongan pengetahuan, yang terkonstruksikan melalui proses
sosial, dan oleh sebab itu menjadi sebuah hasil dari evolusi memetic.
Dari pendekatan konstruktivis, di mana pengetahuan merupakan hasil konstruksi
individu atau masyarakat, maka kita telah bergerak ke pendekatan memetic,
yakni pendekatan yang melihat masyarakat dan individu sebagai dihasilkan oleh
pengkonstruksian melalui sebuah proses evolusi yang terus-menerus dari
fragmentasi independent pengetahuan yang berkompetisi demi dominasi.
Dari
riwayat singkat tentang cara-cara menemukan kebenaran (pengetahuan) sebelumnya,
kiranya memberikan gambaran bahwa melalui argumentasinya masing-masing, tampak
kalangan ilmuwan tidak memiliki cara yang sama dalam upayanya menemukan
kebenaran pada obyek ilmu dan karena itu berkonsekuensi pada penteorisasian
fenomena (baca : komunikasi). Jadi, memang benar apa yang dikatakan Neuman[25], bahwa teori itu muncul dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Refleksi Ragam
Epistemologikal dalam Teorisasi fenomena komunikasi
Ilmu
komunikasi, sebagai ilmu yang menurut banyak ahli sebagai ilmu yang bersifat
interdisipliner, secara epistemologis mencerminkan hasil galian menurut ragam
perspektif. Secara terminologis ragam perspektif dimaksud tercakup pada
sejumlah paradigma ilmu pengetahuan, yang secara familiar dikenal mencakup:
positivistik; konstruktif/ interpretif; dan kritikal. Terhadap teori-teori yang
dibangun berdasarkan paradigma dimaksud, para akademisipun tidak sepakat dalam
upaya mengkategorisasikannya. Dalam upaya pengkategorian ini, para teoritisinya
masing-masing menunjukkan penggunaan istilah yang berbeda. Istilah itu, menurut
penulis ada yang pengkodefikasiannya menurut tempat berasalnya
pemikiran-pemikiran teoritis, ada yang menurut “ideologi” yang mendasari
lahirnya perspektif teoritis, dan ada yang berdasarkan cara bekerjanya ilmu
dalam proses mencapai kebenaran ilmiahnya. Terhadap pengkodefikasian yang
dilakukan berdasarkan tempat asal lahirnya pemikiran teoritis, maka
pengkodefikasiannya dikenal dengan kelompok Chicago School yang
Liberal-Pluralis dan direpresentasikan sebagai perspektif teori komunikasi Barat yang nota bene
positivistic/obyektif. Karenanya, penelitian dalam kubu ini diarahkan pada
penggunaan unit analisis individu dengan methode survey dan instrumen-instrumen
yang standar, yang dimaksudkan sebagai usaha dalam menjelaskan gejala-gejala
sosial sebagaimana dalam hukum-hukum alam, yang hanya terbatas pada erklaeren
berdasarkan hubungan causal. Lawannya adalah Frankfurt School-Marxis
Kritikal, yang direpresentasikan sebagai pemikiran-pemikiran yang melahirkan teori-teori komunikasi Timur. Para Ilmuwan dalam kelompok
ini, dengan tokoh yang antara lain terdiri dari Max Horkheimer, Theodor W.
Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse, banyak dipengaruhi oleh kritik
idealisme Karl Marx. Jadi, di antara dua kubu tersebut, forma penteorisasian
fenomena komunikasinya, secara epistemologis terutama terbedakan karena soal
‘value’ dalam proses bekerjanya ilmu dalam menemukan kebenaran ilmiahnya.
Kemudian,
pengkodefikasian yang dilakukan menurut cara bekerjanya ilmu dalam proses
mencapai kebenaran ilmiahnya, maka termasuklah di sini pengistilahan yang
diberikan Mc Quail dan Griffin. Mc Quail
mengkodefikasikan istilahnya itu dengan konsep model, yakni model
komunikasi yang terdiri dari model Transmisi dan Ritual. Model transmisi
merupakan model yang menggambarkan cara bekerjanya ilmu komunikasi dalam
perspektif tradisional atau positivistic yang
nota bene free value. Jadi, sama dengan proses bekerjanya ilmu dalam
perspektif Teori Barat sebelumnya. Sementara model ritual, yakni model yang
menggambarkan cara bekerjanya ilmu komunikasi itu dengan proses seperti yang
terjadi pada perspektif interpretif
(humanis) sebagaimana dikatakan Griffin seperti telah disinggung sebelumnya.
Griffin sendiri, mengistilahkan transmisi sebagaimana digunakan Mc Quail tadi
dengan istilah Scientific (Objektive). Dengan mana, perspektifnya
relatif tidak berbeda dengan apa yang digambarkan Mc Quail.
Selanjutnya,
kodefikasi yang dilakukan menurut “ideologi” sebagai landasan epistemologis
yang mendasari lahirnya perspektif teoritis. Untuk yang ini, maka
ada dua teoritisi yang mengemukakan gagasannya. Pertama seperti yang
dikemukakan Littlejohn melalui istilah yang disebutnya dengan genre[26]
atau jenis-jenis teori komunikasi,
dan kedua oleh Miller dengan istilahnya Conceptual
Domains of Communication Theory.
Terkait
dengan Littlejohn, maka genre teori komunikasi itu menurutnya ada lima:
1. teori struktural fungsional; 2. teori kognitif dan behavioral; 3. teori
interaksional; 4. teori interpretif dan 5. teori kritis[27]. Basis pada teori “1”
adalah perspektif sosiologi
struktural-fungsionalisme dari Emile Durkheim dan Talcott Parson. Perspektif
ini berdasarkan pada perspektif dalam falsafah determinisme. Pada teori kedua,
maka basis pemikirannya bertolak pada perspektif psikologis, yakni Stimulus (S)
dan Respon (R). Manusia mendapatkan pengetahuannya dengan cara merespon
rangsangan-rangsangan yang ada di alam ini. Pada genre ketiga, maka
basisnya adalah bahwa kehidupan sosial dipandang sebagai sebuah proses interaksi,
tokohnya antara lain Herbert Mead. Kemudian genre keempat, basisnya
yaitu pada upaya menemukan makna pada teks. Dalam kelompok ini tergabung para
ilmuwan yang menamakan diri dengan hermeneuticists, poststructuralis,
deconstructivis, phenomenologis, peneliti studi budaya, dan ada yang
menyebutnya dengan ahli teori aksi sosial. Terakhir yaitu teori kritis, basis
teorinya adalah kritik idealisme Karl Marx, dengan tokoh awalnya Max
Horkheimer, Theodor W. Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse.
Meskipun
teori komunikasi itu terbagi menjadi lima genre, namun ini bukan berarti
masing-masing genre tidak memiliki persamaan sama sekali. Persamaan yang
kasat mata, paling tidak itu dimungkinkan terjadi menurut motif yang melatar
belakangi para ilmuwannya dalam memunculkan salah satu sudut pandang terhadap
upaya menelaah fenomena komunikasi. Persamaan dimaksud, dapat dikatakan sebagai
sebuah persamaan umum yang ada pada masing-masing genre teori
komunikasi, yakni upaya untuk menemukan kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang
fenomena (Erscheinungen) komunikasi sebagai obyek forma dari ilmu
komunikasi.
Selain
persamaan umum, juga terdapat persamaan yang khas pada kelima genre itu.
Persamaan dimaksud, misalnya antara genre struktural and functional theories
dengan genre cognitif and behavioral theories, keduanya dipersamakan
oleh landasan falsafah ilmu yang dianut, yakni determinisme – positivisme yang
dipelopori A. Comte (1798-1857)[28]. Dengan demikian,
komunikasi antara lain dianggap sebagai proses yang linier, dari komunikator ke
komunikan. Jadi, persis seperti apa yang dimaksudkan Mc Quail dalam model
transmisinya.
Namun
demikian, khusus terhadap genre pertama sebelumnya (struktural and
functional), genre itu lahir dari akar pemahaman yang berbeda, di
mana struktural berbasis pada pandagan sosiologi, sementara functional basisnya pada biologi, terutama
terhadap konsep sistem anatomi tubuh manusianya, yang kemudian dinilai tidak
berbeda halnya dengan sosial. Persamaan lainnya adalah, bahwa kedua genre
teori komunikasi dimaksud, juga berada dalam posisi yang sama dalam melihat posisi value dalam
ilmu, yakni sama-sama meyakini bahwa nilai tidak boleh terlibat dalam proses
keilmuan demi tidak lahirnya bad science. Dengan demikian, ilmuwan dalam
kelompok ini berupaya tetap menjaga jarak antara dirinya dengan obyek dalam
usahanya mengkonseptualisir suatu fenomena. Karenanya, hipotesis yang
dirumuskan dengan proses berfikir ilmiah deduktif, dinilai jadi sangat berperan
dalam kedua genre ketika berupaya
menemukan kebenarannya.
Berbeda
dengan dua genre teori komunikasi sebagaimana dibahas barusan, maka pada
tiga genre lainnya, yaitu interactionist symbolic theories; interpretive
theories dan critical theories, masalah value dinilai syah
dalam proses ilmiah. Ini berhubungan dengan pemahaman bahwa manusia itu sebagai
makhluk yang memiliki kehendak bebas. Seiring dengan itu, komunikasipun
dirumuskan bukan sebagai sebuah proses linier, melainkan sirkuler, dengan mana
manusia-manusia yang terlibat di dalamnya tidak dibedakan dalam hal status
seperti halnya dalam genre teori yang
berperspektif positivis dengan isitilah komunikator dan komunikan. Dalam tiga genre
ini, individu yang terlibat disebut dengan partisipan komunikasi, atau
ada yang dengan istilah komunikan sebagai ekuivalen dengan partisipan Dengan
demikian, maka komunikasipun antara lain didefinisikan sebagai sebuah proses
pertukaran makna dan konseptualisasi fenomenanya dilakukan menurut subyek
penelitian dengan prinsip ongoing process.
Dari
uraian tentang refleksi epistemologi dalam forma penteorisasian fenomena
komunikasi tadi, kiranya mengindikasikan bahwa relatif rumitnya dalam upaya
memahami eksistensi suatu teori komunikasi dengan baik. Suatu pemahaman yang
secara pra kondisional tentunya sangat diperlukan oleh para akademisi
komunikasi, terutama bagi para pemula, guna tidak terjadinya kekeliruan dalam
mengaplikasikan suatu teori ketika mengkonseptualisasikan sebuah fenomena
komunikasi, terutama dalam sebuah riset komunikasi. Namun, kerumitan ini
tampaknya antara lain bisa dikurangi dengan cara mengelompokkan teori-teori
komunikasi yang ada menurut setiap genre yang ada. Akan tetapi, sejauh
pengamatan menunjukkan bahwa upaya yang demikian belum ditemui. Juga belum
ditemui pula sejumlah teori komunikasi yang digolong-golongkan menurut
masing-masing paradigma (sebagai refleksi epistemologi) yang ada dalam
perspektif filsafat ilmu. Yang ada bukan menurut genre, melainkan
diantaranya menurut level, gugusan, dan menurut alpabetisnya saja. Upaya yang
ada dimaksud, diantaranya dilakukan University of Twente Nedherland[29].
Penutup
Teori itu mengandung sebuah rangkaian mengenai
petunjuk-petunjuk dalam mengetahui dunia dan bertindak sesuai dengan
petunjuk-petunjuk dimaksud. Dalam kaitan upaya menjadikan teori sebagai
petunjuk dalam menelaah suatu fenomena komunikasi, perlu diketahui eksistensi
hakikinya terlebih dahulu agar fungsinya sebagai kompas benar-benar dapat terberdayakan. Upaya memahami
eksistensi hakiki dimaksud, dalam terminologi filsafat ilmu, itu diantaranya
dapat dilakukan melalui telaah ilmu pada aspek epistemologi. Dari hasil telaah
epistemologi secara histroris diketahui bahwa dengan masing-masing
argumentasinya, kalangan ilmuwan tidak memiliki cara yang sama dalam upayanya
menemukan kebenaran pada obyek ilmu dan karena itu berkonsekuensi pada
penteorisasian fenomena komunikasi. Sementara dari hasil pembahasan menurut Refleksi Ragam Epistemologikal dalam
Teorisasi fenomena komunikasi, diketahui bahwa relatif rumitnya memahami
eksistensi suatu teori komunikasi dengan baik. Namun, kerumitan ini tampaknya
antara lain bisa dikurangi dengan cara mengelompokkan teori-teori komunikasi
yang ada menurut setiap genre yang ada. Akan tetapi, sejauh pengamatan
upaya yang demikian masih sulit ditemui. Pengelompokan teori komunikasi yang
telah dilakukan akademisi cenderung masih sebatas menurut level, gugusan, dan
menurut alpabetisnya. Upaya pengelompokan teori yang mengacu pada nuansa
epistemologinya, sejauh ini masih berlum tampak. Upaya yang demikian
berindikasi masih terbatas sebagai diskursif di lingkup tertertentu seperti
dalam perkuliahan tingkat magister. Guna mempersempit jurang pengetahuan
mengenai teori komunikasi secara epistemologis demi efektifitas pemanfaatannya
dalam riset, maka diskursif mengenai hal ini seyogyanya sudah mulai dibangun
dilingkungan komunitas akademika komunikasi sejak di level strata satu.
Daftar Pustaka
Cangara, Hafied, 1998, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta, Raja
Grafindo Persada.
F., Heylighen,”Epistemology,
introduction”, dalam, Heylighen, F. ,” Epistemology, introduction”, dalam,
http://pespmc1.vub.ac.be/ EPISTEMI. html, diakses, 22 Maret 2007.
Karl Deutsch, dalam : http//en.wikibooks.org.,
diakses tanggal 13 September 2006.
Littlejohn, Stephen W.,
1983, Theories of Human Communication, Columbus –Ohio, Charles E.
Merrill Publishing Company, p. 381-382.
Littlejohn, Stephen W.,
2005, Theories of Human Communication, eighth edition, Thomson Learning
Inc., Wadsworth , Belmont , USA .
Neuman, W. Lawrence,
2000, “The Ethics And Politic of Social Research”, in chapter 5 on Social
Research Methods-Qualitative and Quantitative Approaches, Allyn and Bacon,
Boston, USA., p. 40, 49-50.
Poedjawijatna, I.R.,
1983, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, Jakarta , Bina Aksara,
hal. 94.
Robert N. St. Clair;
Walter E. Rodríguez; dan Carma Nelson, “PLATO AND THE WORLDS OF IDEAL AND
MATERIAL FORMS” dalam HABITUS AND COMMUNICATION THEORY, dalam http://louisville.edu/~rnstcl01/R- Bourdieu.html,
diakses 22 Maret 2007.
Singarimbun, Masri dan
Sofyan Effendi, 1984, Metode Penelitian Survei, Jakarta , LP3ES.
Suriasumantri, Jujun S., 1984, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer,
Jakarta, Sinar Harapan.
Wright, Charles R., 1986, Sosiologi Komunikasi Massa, Editor,
Jalaluddin Rakhmat, Bandung, Remadja Karya, CV.
Situs Web :
http://www.utm.edu/research/iep/k/kantmeta.htm, diakses, 6
Juni 2007.
Taken from http//en.wikibooks.org, on
Sept 13, 2006.
http://en.wikipedia.org/wiki/Communication_theory#History_
of_communication_theory
http://en.wikipedia.org/wiki/Copenhagen_interpretation. http://gsi.berkeley.edu/resources/learning/social.html.
http://www.enolagaia.
com/Tutorial1.html#MV.
efek
sosial yang timbul ketika masyarakat sudah mengenal media baik pada perubahan
individu, perubahan struktur maupun interaksi sosial
[1] Peneliti Madya Bidang Studi Komunikasi dan Media pada BPPI Wilayah II Jakarta, Badan
Litbang SDM Depkominfo.
[5]Littlejohn, Stephen W., 1983, Theories
of Human Communication, Columbus –Ohio, Charles E. Merrill Publishing Company, p. 381-382.
[6]Littlejohn, Stephen W., 2005, Theories
of Human Communication, eighth
edition, Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.
[7] Mengenai komponen konsep, ini diartikan
sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai
untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Singarimbun dan Effendy, 1984
: 17). Konsep ini sifatnya masih bermakna tunggal sehingga belum bisa dilakukan
pengukuran terhadap fenomena yang dijelaskannya. Guna memungkinkan pengukuran,
maka bagi ilmuwan tradisional terhadap suatu konsep harus diberikan sifat-sifat
tertentu (Littlejohn (2005 : 25) karena ilmu ini memerlukan ketepatan dalam
melakukan observasi terhadap konsep yang dipelajari.
[8] Komponen ketiga pada teori adalah penjelasan
atau eksplanasi. Penjelasan tersebut banyak jenisnya, namun dua
diantaranya yang umum adalah penjelasan sebab-akibat (causal) dan penjelasan
praktis (practical). Perbedaan antara penjelasan sebab akibat dan praktis ini
sangat penting dalam debat mengenai apa yang harus dilakukan sebuah teori.
Banyak teoritisi tradisional mengatakan bahwa teori-teori akan berhenti pada
tingkatan penjelasan ini. (Lihat, dalam Littlejohn, 2005 : 22).
[9] Sebuah prinsip adalah sebuah pedoman yang
memungkinkan kita untuk melakukan interpretasi pada sebua peristiwa, membuat
sebuah penilaian mengenai apa yang terjadi, dan kemudian memutuskan bagaimana
melakukan tindakan dalam suatu situasi. Suatu prinsip memiliki tiga bagian; (1)
prinsip mengidentifikasikan
suatu situasi atau peristiwa; (2) prinsip ini mengandung sebuah rangkaian norma-norma atau nilai-nilai, dan (3)
prinsip menuntut sebuah hubungan
antara suatu jarak tindakan dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin
muncul. (Littlejohn, 2005 : 23).
[10] Komponen asumsi filosofis sering dibagi ke dalam tiga jenis pembahasan,
meliputi pembahasan menurut sub komponen : epistemologi, atau pertanyaan
tentang pengetahuan; ontologi, atau pertanyaan tentang
eksistensi; aksiologi, atau pertanyaan tentang nilai(Littlejohn,
2005 : 20).
[11] Heylighen,,
F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/
EPISTEMI. html, diakses, 22 Maret 2007.
[12]
Suriasumantri, Jujun S., 1984, Filsafat
Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Sinar Harapan., hlm. 33-34.
[13] Littlejohn,
Stephen W., 2005, Theories of
Human Communication, eighth
edition, Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA, p. : 18).
[14] Lihat, Robert N. St. Clair; Walter E. Rodríguez; dan Carma
Nelson,”Plato and the worlds of ideal and material forms”, dalam Habitus and
Communication Theory, dalam http://louisville.edu/~rnstcl01/R- Bourdieu.html, diakses 22 Maret 2007.
[15] Robert N. St. Clair; Walter E. Rodríguez; dan Carma
Nelson, ,”Plato and the worlds of ideal and material forms”, dalam Habitus
and Communication Theory, dalam http://louisville.edu/~rnstcl01/R- Bourdieu.html, diakses 22 Maret 2007.
[17] Heylighen,, F.,” Epistemology,
introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI
.html, diakses, 22 Maret 2007.
[19] Heylighen,, F.,”
Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI
.html, diakses, 22 Maret 2007.
[20] Heylighen,,
F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.
html, diakses, 22 Maret 2007.
[21] Memetics is the study of ideas and
concepts viewed as "living" organisms, capable of reproduction and
evolution in an "Ideosphere" (similar to the Biosphere)
consisting of the collective of human minds. Memes reproduce by spreading to new hosts, who
will spread them further (typical examples are jokes, catchphrases or
politicial ideas). (http://aleph.se/Trans/Cultural/Memetics/).
[22] Heylighen,,
F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.
html,diakses, 22 Maret 2007.
[24] Heylighen,,
F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html,
diakses, 22 Maret 2007.
[25] Neuman, W. Lawrence, 2000, “The Ethics And
Politic of Social Research”, in chapter 5 on Social Research
Methods-Qualitative and Quantitative Approaches, Allyn and
Bacon, Boston, USA.
[27]Littlejohn,
Steven W., 1994, Theories of Human Communication, eighth edition, Thomson Learning Inc.,
Wadsworth, Belmont, USA, p. : 13).
[28] Lihat,
Poedjawijatna, I.R., 1983, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke Ilmu dan
Filsafat, Jakarta, Bina Aksara., hlm. 94.
[29] Lihat, University of Twente, Netherlands
, dalam (http://www.tcw.utwente.nl/theorieen-overzicht/index.html).
No comments:
Post a Comment
Silahkan baca dan share