Home About
JIKA ADA YANG DITANYAKAN ATAU DATA YANG KALIAN BUTUHKAN, SILAHKAN BERKOMENTAR PADA MATERI TERSEBUT...TERIMAKASIH

Sunday, 3 November 2013

TRADISI-TRADISI ILMU KOMUNIKASI



1.        TRADISI SEMIOTIK
Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Semiotik selalu dibagi ke dalam tiga wilayah kajian, yaitu:
1.1  Semantik
Semantik berbicara tentang bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya atau apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda. Semiotik menggambarkan dua dunia – dunia benda dan dunia tanda – dan mencerahkan hubungan di antara kedua tersebut. Kapan pun kita memberikan sebuah pertanyaan “Apa yang direpresentasikan oleh tanda?” maka kita berada dalam ranah semantik.
1.2  Sintaktik
Sintaktik dapat pula disebut sebagai kajian hubungan di antara tanda-tanda. Tanda-tanda sebetulnya tidak pernah berdiri dengan sendirinya. Sintaktik mengacu pada aturan-aturan yang dengannya orang mengombinasikan tanda-tanda ke dalam sistem makna yang kompleks. Peraturan sintaktik memudahkan manusia untuk menggunakan kombinasi tanda-tanda yang tidak terbatas untuk mengekspresikan kekayaan makna.
1.3  Pragmatik
Pragmatik memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda pada kehidupan sosial, dari perspektif semiotik, kita harus memiliki pemahaman bersama bukan hanya pada kata-kata, tetapi juga pada struktur bahasa, masyarakat, dan budaya agar komunikasi dapat mengambil perannya.
Dapat dikatakan bahwa ketiga dimensi semiotik ini berkaitan satu sama lainnya dan bahwa pemisahannya membantu dalam memahami aspek makna yang berbeda.
2.        TRADISI FENOMENOLOGIS
Teori-teori dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Tradisi ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang. Tiga kajian pemikiran umum membuat beberapa tradisi fenomenologis, yaitu:
2.1  fenomenologi Klasik (Edmund Husserl)
Husserl mengembangkan metode yang meyakinkan kebenaran melalui kesadaran yang terfokus. Menurutnya, kebenaran dapat diyakinkan melalui pengalaman langsung, melalui perhatian sadarlah kebenaran dapat diketahui. Pendekatan Husserl dalam fenomenologis sangat objektif; dunia dapat dialami tanpa harus membawa kategori pribadi seseorang agar terpusat pada proses.
2.2  Fenomenologi Persepsi (Maurice Merleau Ponty)
Baginya, manusia merupakan sosok gabungan antara fisik dan mental yang menciptakan makna di dunia. Kita mengetahui sesuatu hanya melalui hubungan pribadi kita dengan benda tersebut. Sebagai manusia kita dipengaruhi oleh dunia, tetapi kita juga mempengaruhi dunia dengan bagaimana kita mengalaminya. Terdapat dialog antara manusia sebagai penafsir dan benda yang mereka tafsirkan.
2.3  Fenomenologi Hermeneutik (Martin Heidegger)
Baginya, realitas sesuatu itu tidak diketahui dengan analisis yang cermat atau pengurangan, melainkan oleh pengalaman alami yang diciptakan oleh penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berkomunikasi, Anda mencari-cari cara baru dalam melihat dunia – pidato Anda memengaruhi pikiran Anda dan nantinya makna baru tercipta oleh pikiran itu. Bahasa dimasukkan bersama dengan makna dan secara terus-menerus memengaruhi pengalaman kita akan kejadian dan situasi.
Bagi kebanyakan ahli, tradisi fenomenologis itu naif. Bagi mereka, kehidupan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan yang kompleks dan saling berhubungan, hanya beberapa di antaranya saja yang dapat diketahui dengan sadar pada satu waktu.
3.        TRADISI SIBERNETIKA
Teori-teori dalam tradisi sibernetika menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan prilaku bekerja. Dalam sibernetika, komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling memengaruhi satu sama lainnya, membentuk, serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya organisme, menerima keseimbangan dan perubahan.
3.1  Teori Sistem Dasar(Basic System Theory)
Pendekatan ini menggambarkan sistem-sistem sebagai bentuk-bentuk nyata yang dapat dianalisis dan diobservasi dari luar. Konsep ini mengarahkan kita pada pertanyaan tentang bagaimana sesuatu saling memengaruhi satu sama lainnya dalam cara yang tidak berujung, bagaimana sistem mempertahankan kontrol, bagaimana mendapatkan keseimbangan, serta bagaimana putaran timbal balik dapat mempertahankan keseimbangan dan membuat perubahan.
3.2  Teori Sistem Umum (General System Theory: Ludwig von Bertalanffy)
Tradisi ini menggunakan prinsip-prinsip yang meunjukkan bagaimana benda-benda dalam banyak kajian yang berbeda serupa satu sama lainnya, membentuk kosa kata umum bagi komunikasi dalam banyak kajian.
3.3  Sibernetika Tingkat Kedua (Second-order Cybernetics)
Sibernetika tingkat kedua meyakini bahwa para peneliti tidak pernah dapat melihat bagaimana sistem bekerja dengan berada di luar sistem itu sendiri karena peneliti selalu diikat secara sibernetika dengan sistem yang diobservasi. Kapanpun anda mengobservasi sistem, Anda memengaruhi dan dipengaruhi olehnya.
Tradisi sibernetika menjai bagian dalam komunikasi yang populer dan berpengaruh, sehingga bermanfaat bagi pemahaman komunikasi secara umum, sama halnya dengan komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi sibernetika sangat bagus untuk pemahaman terhadap sebuah hubungan, tetapi kurang efektif dalam membantu kita memahami perbedaan-perbedaan individu di antara bagian-bagian sistem.
4.        TRADISI SOSIOPSOKOLOGIS
Teori-teori tradisi ini berfokus pada prilaku sosial individu, variabel psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat, persepsi, serta kognisi. Pandangan psikologis ini melihat manusia sebagai kesatuan lahiriah dengan karakteristik yang mengarahkannya kepada prilaku mandiri.
4.1  Prilaku
Teori-teori berkonsentrasi pada bagaimana manusia berprilaku dalam situasi-situasi komunikasi. Teori-teori tersebut biasanya melihat hubungan antara prilaku komunikasi – apa yang Anda katakan dan lakukan – dalam kaitannya dengan beberapa variabel, seperti sifat pribadi, perbedaan situasi, dan pembelajaran.
4.2  Kognitif
Berpusat pada bentuk pemikiran, cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan, dan memproses informasi dalam cara yang mengarahkan outpun prilaku. Apa yang anda lakukan dalam situasi komunikasi bergantung tidak hanya pada bentuk stimulus-respon, melainkan pada operasi mental yang digunakan untuk mengelola informasi.
4.3  Biologis
Karena kajian genetik diasumsikan menjadi semakin penting, para ahli psikologi dan ahli teori perilaku pun tertarik dalam efek-efek fungsi dan struktur otak, neurochemistry, dan faktor genetik dalam menjelaskan perilaku manusia. Para ahli percaya bahwa banyak dari sifat, cara berfikir, dan berprilaku individu diikat secara biologis dan didapat bukan hanya dari pembelajaran atau faktor-faktor situasi, melainkan dari pengaruh-pengaruh neurobiologis sejak lahir.
Tradisi sosiopsikologis dan sosiokultural berkenaan dengan individu dalam interaksinya dengan yang lain. Tradisi sosiopsikologis mengedepankan individu, sedangkan sosiokultural menekankan persanaan dalam interaksi sosial.
5.        TRADISI SOSIOKULTURA
Pendekatan sosiokultura terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Teori-teori tersebut mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni oleh manusia, menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas, dan budaya.
5.1  Paham Interaksi Simbolis (Simbolic Interactionism: Herbert Blumer dan George Herbert Mead)
Ide pokok dari paham interaksi simbolis telah diadopsi dan dielaborasi oleh banyak pakar sosial serta saat ini dimasukkan ke dalam kajian kelompok, emosi, diri, politik, dan struktur sosial.
5.2  Konstruksionisme Sosial (Social Constructionism: Peter Berger dan Thomas Luckmann)
Sudut pandang ini telah melakukan penyelidikan tentang bagaimana pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi sosial. Identitas benda dihasilkan dari bagaimana kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untuk menangkap konsep kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diri pada pengalaman umum mereka.
5.3   Sosiolinguistik
Manusia menggunakan bahasa secara berbeda, bahasa juga masuk ke dalam bentuk yang menentukan jati diri kita sebagai makhluk sosial dan berbudaya.
5.4  Filosofi Bahasa (Ludwig Wittgenstein)
Sudut pandang ini menyarankan bahwa makna bahasa bergantung pada penggunaan nyatanya. Bahasa, seperti yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan permainan bahasa karena manusia mengikuti aturan-aturan dalam mengerjakan sesuatu melalui bahasa.
5.5  Etnografi
Etnografi melihat bentuk-bentuk komunikasi yang dugunakan dalam kelompok sosial tertentu, kata-kata yang mereka gunakan, dan apa maknanya bagi mereka, sebagaimana makna-makna bagi keragaman perilaku, visual, respon audio.
5.6  Etnometodologi (Harold Gerfinkel)
Pendekatan ini melihat bagaimana kita mengelola atau menghubungkan perilaku dalam interaksi sosial pada waktu tertentu.
6.        TRADISI KRITIK
Pertanyaan-pertanyaan akan keistimewaan dan kekuatan dianggap penting dalam teori komunikasi dan merupakan tema dari tradisi kritik. Teori-teori tersebut menyangkut bagaimana kekuatan, tekanan, dan keistimewaan sebagai hasil dari bentuk-bentuk komunikasi tertentu dalam masyarakat, membuat tradisi kritik penting dalam kajian teori komunikasi saat ini.
6.1 Marxisme
Marx mengajarkan bahwa cara-cara produksi dalam masyarakat menentukan sifat dari masyarakat. Dalam Marxisme, praktik-praktik komunikasi dilihat sebagai hasil dari tekanan antara kreativitas individu dan desakan sosial pada kreativitas itu. Hanya ketika individu benar-benar bebas mengekspresikan dirinya dengan kejelasan dan alasan, kebebasan akan terjadi.
6.2 Frankfurt School
Frankfurt school mengacu kepada kelompok filsuf Jerman, sosiolog, dan ekonom – Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse adalah di antara anggota-anggota yang paling terkenal. Pengikut aliran ini percaya bahwa demi kebutuhan akan itegrasi di antara kajian – khususnya filosofi, sosiologi, ekonomi,dan sejarah – untuk mempromosikan filosofi sosial yang luas atau teori kritik yang mampu menawarkan pengujian yang komprehensif akan kontradiksi dan interkoneksi dalam masyarakat.
6.3 Post-modernisme
Dalam pengertian yang paling umum diberi tanda oleh perpecahan dengan modernitas dan proyek pencerahan. Post-modernisme menolak “elitisme, puritanisme, dan sterilitas” rasional karena pluralisme, relativitas, kebaruan (novelty), kompleksitas, dan kontradiksi.
6.4 Cultural Studies
Karya ini selalu dihubungkan  dengan ragam post-modernisme dalam tradisi kritik. Para ahli kajian budaya sama-sama membahas ideologi yang mendominasi sebuah budaya, tapi memfokuskan pada perubahan sosial dari hal yang menguntungkan di dalam budaya itu sendiri: “untuk mempermudah penggerakkan budaya seperti yang telah diperlihatkan dalam kehidupan sosial, hubungan kelompok dan kelas, istitusi dan politik, serta ide dan nilai.”
6.5 Post-strukturalisme
Biasanya dikonsepkan sebagai bagian dari proyek post-modern karena post-strukturalisme mengolah usaha modern dalam menemukan kebenaran-kebenaran universal, naratif, metode, dan makna yang digunakan untuk mengenal dunia. Jaques Derrida pada tahun 1966 dan inti post-strukturalisme adalah penolakan akan universalisasi makan yang ditentukan oleh desakan-desakan struktural, kondisi-kondisi, dan simbol yang tetap. Para ahli dalam tradisi post-strukturalisme menghubungkan pendekatan historis dan sosial terhadap sifat dunia serta manusia yang masing-masing maknanya ditentukan dalam produksi dinamis dan mencair serta pengaruh spesifik dari simbol-simbol untuk moment bersejarah.
6.6 Post-Kolonialisme
Mengacu pada kajian “semua kebudayaan dipengaruhi oleh proses kekaisaran dari era kolonialisme sampai hari ini.” Inti dari teori post-kolonialisme adalah gagasan yang dikemukakan oleh Edward Said bahwa proses penjajahan menciptakan “kebedaan” yang bertanggung jawab bagi gambaran yang distereotipkan pada populasi bukan kulit putih. Teori ini merupakan sebuah proyek post modern dalam mempertanyakan bahwa hubungan historis, nasional, dan geografis, serta penghapusan dibuat eksplisit dalam wacana.
6.7 Feminis
Feminis berusaha menawarkan teori-teori yang memusatkan pada pengalaman wanita dan untuk membicarakan hubungan antara kategori-kategori gender dan sosial lainnya, termasuk ras, etnik, kelas, dan seksualitas.

7.        TRADISI RETORIKA
Kajian retorika secara umum didefinisikan sebagai simbol yang digunakan oleh manusia. Pada awalnya, ilmu ini berhubungan dengan persuasi dan fokus retorika telah diperluas bahkan lebih mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk memengaruhi lingkungan disekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
7.1  Klasik (abad ke 5 – abad ke 1)
Pada zaman ini asal retorika didominasi oleh usaha-usaha untuk mendefinisikan dan menyusun peraturan dari seni retorika. Guru-guru pengembara (Sophist) mengajarkan seni berdebat di kedua sisi pada sebuah kasus. Plato tidak menyukai pendekatan relativistik Sophist. Dialog-dialog Plato tentang retorika telah menyelamatkan sebagian besar bidang retorika dari nama buruk.
7.2  Zaman Pertengahan (400 – 1400 Masehi)
Memandang kajian retorika yang berfokus pada permasalahan penyusunan dan gaya. Retorika zaman pertengahan telah merendahkan praktik dan seni pagan yang memandang kebenaran itu sendiri sebagai sebuah keyakinan. Orientasi pragmatis terhadap retorika pertengahan juga bukti lain kegunaan dari retorika Zaman Pertengahan. Untuk penulisan surat. Permasalahan gaya ditekankan dalam pengajaran mengadaptasi pelapisan, bahasa, dan format untuk audiensi khusus.
7.3  Renaissance (sekitar 1300 -1600 Masehi)
Memandang sebuah kelahiran kembali dari retorika sebagai filosofi seni. Para penganut humanisme yang tertarik dan berhubungan dengan semua aspek dari manusia, biasa menemukan kembali teks retorika klasik dalam sebuah usaha untuk mengenal dunia manusia.
7.4  Zaman Pencerahan (1600 – 1800 Masehi)
Selama era ini, para pemikir seperti Rene Descartes mencoba untuk menentukan apa yang dapat diketahui secara absolut dan objektif oleh pikiran manusia. Fokus pada zaman ini bahwa retorika dibatasi karena gayanya, memuncukan pergerakan belles letters (surat-surat indah atau menarik) yang mengacu pada karya sastra dan semua karya seni murni.
7.5  Retorika Kontemporer (Abad ke 20)
Pada zaman ini menunjukkan sebuah kenaikan pertumbuhan dalam retorika ketika jumlah, jenis, dan pengaruh simbol-simbol meningkat. Penemuan media massa menghadirkan fokus baru dalam visual dan verbal. Retorika bergeser fokusnya dari pidato ke semua jenis penggunaan simbol. Lembaga-lembaga media massa dibangun untuk meneliti propaganda, mulai meneliti periklanan, dan pesan-pesan sudut pandang retorika yang disampaikan melalui media massa.
7.6  Post modern (abad ke 20 – abad ke 21)
Kecenderungan lain yang muncul pada abad ini telah menjadi jembatan antara retorika dengan post-modernisme, ahlis-ahli teori retorika post-modern mengistimewakan pendirian akan ras, kelas, gender, dan seksualitas ketika mereka masuk ke dalam pengalaman kehidupan khusus seseorang. Penganut paham feminis dan praktik-praktik retorika gender sering kali masuk ke dalam bidang post-modern, sama seperti teori queer.
Diambil dari buku Little John edisi 9


 

No comments:

Post a Comment

Silahkan baca dan share