1.
TRADISI SEMIOTIK
Tradisi
semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda
merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi di luar
tanda-tanda itu sendiri. Semiotik selalu dibagi ke dalam tiga wilayah kajian,
yaitu:
1.1
Semantik
Semantik
berbicara tentang bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya
atau apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda. Semiotik menggambarkan dua dunia –
dunia benda dan dunia tanda – dan mencerahkan hubungan di antara kedua
tersebut. Kapan pun kita memberikan sebuah pertanyaan “Apa yang
direpresentasikan oleh tanda?” maka kita berada dalam ranah semantik.
1.2
Sintaktik
Sintaktik
dapat pula disebut sebagai kajian hubungan di antara tanda-tanda. Tanda-tanda
sebetulnya tidak pernah berdiri dengan sendirinya. Sintaktik mengacu pada
aturan-aturan yang dengannya orang mengombinasikan tanda-tanda ke dalam sistem
makna yang kompleks. Peraturan sintaktik memudahkan manusia untuk menggunakan
kombinasi tanda-tanda yang tidak terbatas untuk mengekspresikan kekayaan makna.
1.3
Pragmatik
Pragmatik
memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia
atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda pada kehidupan
sosial, dari perspektif semiotik, kita harus memiliki pemahaman bersama bukan
hanya pada kata-kata, tetapi juga pada struktur bahasa, masyarakat, dan budaya
agar komunikasi dapat mengambil perannya.
Dapat dikatakan bahwa ketiga dimensi
semiotik ini berkaitan satu sama lainnya dan bahwa pemisahannya membantu dalam
memahami aspek makna yang berbeda.
2.
TRADISI FENOMENOLOGIS
Teori-teori
dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif
menginterpretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman
pribadinya. Tradisi ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang. Tiga
kajian pemikiran umum membuat beberapa tradisi fenomenologis, yaitu:
2.1
fenomenologi Klasik (Edmund Husserl)
Husserl
mengembangkan metode yang meyakinkan kebenaran melalui kesadaran yang terfokus.
Menurutnya, kebenaran dapat diyakinkan melalui pengalaman langsung, melalui
perhatian sadarlah kebenaran dapat diketahui. Pendekatan Husserl dalam
fenomenologis sangat objektif; dunia dapat dialami tanpa harus membawa kategori
pribadi seseorang agar terpusat pada proses.
2.2
Fenomenologi Persepsi (Maurice Merleau
Ponty)
Baginya,
manusia merupakan sosok gabungan antara fisik dan mental yang menciptakan makna
di dunia. Kita mengetahui sesuatu hanya melalui hubungan pribadi kita dengan
benda tersebut. Sebagai manusia kita dipengaruhi oleh dunia, tetapi kita juga
mempengaruhi dunia dengan bagaimana kita mengalaminya. Terdapat dialog antara
manusia sebagai penafsir dan benda yang mereka tafsirkan.
2.3
Fenomenologi Hermeneutik (Martin
Heidegger)
Baginya,
realitas sesuatu itu tidak diketahui dengan analisis yang cermat atau
pengurangan, melainkan oleh pengalaman alami yang diciptakan oleh penggunaan
bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berkomunikasi, Anda mencari-cari
cara baru dalam melihat dunia – pidato Anda memengaruhi pikiran Anda dan
nantinya makna baru tercipta oleh pikiran itu. Bahasa dimasukkan bersama dengan
makna dan secara terus-menerus memengaruhi pengalaman kita akan kejadian dan
situasi.
Bagi kebanyakan ahli, tradisi
fenomenologis itu naif. Bagi mereka, kehidupan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan
yang kompleks dan saling berhubungan, hanya beberapa di antaranya saja yang
dapat diketahui dengan sadar pada satu waktu.
3.
TRADISI SIBERNETIKA
Teori-teori
dalam tradisi sibernetika menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial,
dan prilaku bekerja. Dalam sibernetika, komunikasi dipahami sebagai sistem
bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling memengaruhi satu sama lainnya,
membentuk, serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya
organisme, menerima keseimbangan dan perubahan.
3.1
Teori Sistem Dasar(Basic System Theory)
Pendekatan
ini menggambarkan sistem-sistem sebagai bentuk-bentuk nyata yang dapat
dianalisis dan diobservasi dari luar. Konsep ini mengarahkan kita pada pertanyaan
tentang bagaimana sesuatu saling memengaruhi satu sama lainnya dalam cara yang
tidak berujung, bagaimana sistem mempertahankan kontrol, bagaimana mendapatkan
keseimbangan, serta bagaimana putaran timbal balik dapat mempertahankan
keseimbangan dan membuat perubahan.
3.2
Teori Sistem Umum (General System
Theory: Ludwig von Bertalanffy)
Tradisi
ini menggunakan prinsip-prinsip yang meunjukkan bagaimana benda-benda dalam
banyak kajian yang berbeda serupa satu sama lainnya, membentuk kosa kata umum
bagi komunikasi dalam banyak kajian.
3.3
Sibernetika Tingkat Kedua (Second-order
Cybernetics)
Sibernetika
tingkat kedua meyakini bahwa para peneliti tidak pernah dapat melihat bagaimana
sistem bekerja dengan berada di luar sistem itu sendiri karena peneliti selalu
diikat secara sibernetika dengan sistem yang diobservasi. Kapanpun anda
mengobservasi sistem, Anda memengaruhi dan dipengaruhi olehnya.
Tradisi sibernetika menjai bagian dalam
komunikasi yang populer dan berpengaruh, sehingga bermanfaat bagi pemahaman
komunikasi secara umum, sama halnya dengan komunikasi yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Tradisi sibernetika sangat bagus untuk pemahaman
terhadap sebuah hubungan, tetapi kurang efektif dalam membantu kita memahami
perbedaan-perbedaan individu di antara bagian-bagian sistem.
4.
TRADISI SOSIOPSOKOLOGIS
Teori-teori
tradisi ini berfokus pada prilaku sosial individu, variabel psikologis, efek
individu, kepribadian dan sifat, persepsi, serta kognisi. Pandangan psikologis
ini melihat manusia sebagai kesatuan lahiriah dengan karakteristik yang
mengarahkannya kepada prilaku mandiri.
4.1
Prilaku
Teori-teori
berkonsentrasi pada bagaimana manusia berprilaku dalam situasi-situasi
komunikasi. Teori-teori tersebut biasanya melihat hubungan antara prilaku
komunikasi – apa yang Anda katakan dan lakukan – dalam kaitannya dengan
beberapa variabel, seperti sifat pribadi, perbedaan situasi, dan pembelajaran.
4.2
Kognitif
Berpusat
pada bentuk pemikiran, cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu
memperoleh, menyimpan, dan memproses informasi dalam cara yang mengarahkan
outpun prilaku. Apa yang anda lakukan dalam situasi komunikasi bergantung tidak
hanya pada bentuk stimulus-respon, melainkan pada operasi mental yang digunakan
untuk mengelola informasi.
4.3
Biologis
Karena kajian
genetik diasumsikan menjadi semakin penting, para ahli psikologi dan ahli teori
perilaku pun tertarik dalam efek-efek fungsi dan struktur otak, neurochemistry,
dan faktor genetik dalam menjelaskan perilaku manusia. Para ahli percaya bahwa
banyak dari sifat, cara berfikir, dan berprilaku individu diikat secara
biologis dan didapat bukan hanya dari pembelajaran atau faktor-faktor situasi,
melainkan dari pengaruh-pengaruh neurobiologis sejak lahir.
Tradisi sosiopsikologis dan
sosiokultural berkenaan dengan individu dalam interaksinya dengan yang lain.
Tradisi sosiopsikologis mengedepankan individu, sedangkan sosiokultural
menekankan persanaan dalam interaksi sosial.
5.
TRADISI SOSIOKULTURA
Pendekatan
sosiokultura terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap
makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam
komunikasi. Teori-teori tersebut mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni
oleh manusia, menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar
kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas,
dan budaya.
5.1
Paham Interaksi Simbolis (Simbolic
Interactionism: Herbert Blumer dan George Herbert Mead)
Ide
pokok dari paham interaksi simbolis telah diadopsi dan dielaborasi oleh banyak
pakar sosial serta saat ini dimasukkan ke dalam kajian kelompok, emosi, diri,
politik, dan struktur sosial.
5.2
Konstruksionisme Sosial (Social
Constructionism: Peter Berger dan Thomas Luckmann)
Sudut
pandang ini telah melakukan penyelidikan tentang bagaimana pengetahuan manusia
dibentuk melalui interaksi sosial. Identitas benda dihasilkan dari bagaimana
kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untuk menangkap konsep
kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diri pada pengalaman umum
mereka.
5.3
Sosiolinguistik
Manusia
menggunakan bahasa secara berbeda, bahasa juga masuk ke dalam bentuk yang
menentukan jati diri kita sebagai makhluk sosial dan berbudaya.
5.4
Filosofi Bahasa (Ludwig Wittgenstein)
Sudut
pandang ini menyarankan bahwa makna bahasa bergantung pada penggunaan nyatanya.
Bahasa, seperti yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan permainan
bahasa karena manusia mengikuti aturan-aturan dalam mengerjakan sesuatu melalui
bahasa.
5.5
Etnografi
Etnografi
melihat bentuk-bentuk komunikasi yang dugunakan dalam kelompok sosial tertentu,
kata-kata yang mereka gunakan, dan apa maknanya bagi mereka, sebagaimana
makna-makna bagi keragaman perilaku, visual, respon audio.
5.6
Etnometodologi (Harold Gerfinkel)
Pendekatan
ini melihat bagaimana kita mengelola atau menghubungkan perilaku dalam
interaksi sosial pada waktu tertentu.
6.
TRADISI KRITIK
Pertanyaan-pertanyaan
akan keistimewaan dan kekuatan dianggap penting dalam teori komunikasi dan
merupakan tema dari tradisi kritik. Teori-teori tersebut menyangkut bagaimana
kekuatan, tekanan, dan keistimewaan sebagai hasil dari bentuk-bentuk komunikasi
tertentu dalam masyarakat, membuat tradisi kritik penting dalam kajian teori
komunikasi saat ini.
6.1
Marxisme
Marx
mengajarkan bahwa cara-cara produksi dalam masyarakat menentukan sifat dari
masyarakat. Dalam Marxisme, praktik-praktik komunikasi dilihat sebagai hasil
dari tekanan antara kreativitas individu dan desakan sosial pada kreativitas
itu. Hanya ketika individu benar-benar bebas mengekspresikan dirinya dengan
kejelasan dan alasan, kebebasan akan terjadi.
6.2
Frankfurt School
Frankfurt
school mengacu kepada kelompok filsuf Jerman, sosiolog, dan ekonom – Max
Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse adalah di antara
anggota-anggota yang paling terkenal. Pengikut aliran ini percaya bahwa demi
kebutuhan akan itegrasi di antara kajian – khususnya filosofi, sosiologi,
ekonomi,dan sejarah – untuk mempromosikan filosofi sosial yang luas atau teori
kritik yang mampu menawarkan pengujian yang komprehensif akan kontradiksi dan
interkoneksi dalam masyarakat.
6.3
Post-modernisme
Dalam
pengertian yang paling umum diberi tanda oleh perpecahan dengan modernitas dan
proyek pencerahan. Post-modernisme menolak “elitisme, puritanisme, dan
sterilitas” rasional karena pluralisme, relativitas, kebaruan (novelty),
kompleksitas, dan kontradiksi.
6.4
Cultural Studies
Karya
ini selalu dihubungkan dengan ragam
post-modernisme dalam tradisi kritik. Para ahli kajian budaya sama-sama
membahas ideologi yang mendominasi sebuah budaya, tapi memfokuskan pada
perubahan sosial dari hal yang menguntungkan di dalam budaya itu sendiri:
“untuk mempermudah penggerakkan budaya seperti yang telah diperlihatkan dalam
kehidupan sosial, hubungan kelompok dan kelas, istitusi dan politik, serta ide
dan nilai.”
6.5
Post-strukturalisme
Biasanya
dikonsepkan sebagai bagian dari proyek post-modern karena post-strukturalisme
mengolah usaha modern dalam menemukan kebenaran-kebenaran universal, naratif,
metode, dan makna yang digunakan untuk mengenal dunia. Jaques Derrida pada
tahun 1966 dan inti post-strukturalisme adalah penolakan akan universalisasi
makan yang ditentukan oleh desakan-desakan struktural, kondisi-kondisi, dan
simbol yang tetap. Para ahli dalam tradisi post-strukturalisme menghubungkan
pendekatan historis dan sosial terhadap sifat dunia serta manusia yang
masing-masing maknanya ditentukan dalam produksi dinamis dan mencair serta
pengaruh spesifik dari simbol-simbol untuk moment bersejarah.
6.6
Post-Kolonialisme
Mengacu
pada kajian “semua kebudayaan dipengaruhi oleh proses kekaisaran dari era
kolonialisme sampai hari ini.” Inti dari teori post-kolonialisme adalah gagasan
yang dikemukakan oleh Edward Said bahwa proses penjajahan menciptakan
“kebedaan” yang bertanggung jawab bagi gambaran yang distereotipkan pada
populasi bukan kulit putih. Teori ini merupakan sebuah proyek post modern dalam
mempertanyakan bahwa hubungan historis, nasional, dan geografis, serta
penghapusan dibuat eksplisit dalam wacana.
6.7
Feminis
Feminis
berusaha menawarkan teori-teori yang memusatkan pada pengalaman wanita dan
untuk membicarakan hubungan antara kategori-kategori gender dan sosial lainnya,
termasuk ras, etnik, kelas, dan seksualitas.
7.
TRADISI RETORIKA
Kajian
retorika secara umum didefinisikan sebagai simbol yang digunakan oleh manusia.
Pada awalnya, ilmu ini berhubungan dengan persuasi dan fokus retorika telah
diperluas bahkan lebih mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol
untuk memengaruhi lingkungan disekitarnya dan untuk membangun dunia tempat
mereka tinggal.
7.1
Klasik (abad ke 5 – abad ke 1)
Pada
zaman ini asal retorika didominasi oleh usaha-usaha untuk mendefinisikan dan
menyusun peraturan dari seni retorika. Guru-guru pengembara (Sophist)
mengajarkan seni berdebat di kedua sisi pada sebuah kasus. Plato tidak menyukai
pendekatan relativistik Sophist. Dialog-dialog Plato tentang retorika telah
menyelamatkan sebagian besar bidang retorika dari nama buruk.
7.2
Zaman Pertengahan (400 – 1400 Masehi)
Memandang
kajian retorika yang berfokus pada permasalahan penyusunan dan gaya. Retorika
zaman pertengahan telah merendahkan praktik dan seni pagan yang memandang
kebenaran itu sendiri sebagai sebuah keyakinan. Orientasi pragmatis terhadap
retorika pertengahan juga bukti lain kegunaan dari retorika Zaman Pertengahan.
Untuk penulisan surat. Permasalahan gaya ditekankan dalam pengajaran
mengadaptasi pelapisan, bahasa, dan format untuk audiensi khusus.
7.3
Renaissance (sekitar 1300 -1600 Masehi)
Memandang
sebuah kelahiran kembali dari retorika sebagai filosofi seni. Para penganut
humanisme yang tertarik dan berhubungan dengan semua aspek dari manusia, biasa
menemukan kembali teks retorika klasik dalam sebuah usaha untuk mengenal dunia
manusia.
7.4
Zaman Pencerahan (1600 – 1800 Masehi)
Selama
era ini, para pemikir seperti Rene Descartes mencoba untuk menentukan apa yang
dapat diketahui secara absolut dan objektif oleh pikiran manusia. Fokus pada
zaman ini bahwa retorika dibatasi karena gayanya, memuncukan pergerakan belles
letters (surat-surat indah atau menarik) yang mengacu pada karya sastra dan
semua karya seni murni.
7.5
Retorika Kontemporer (Abad ke 20)
Pada
zaman ini menunjukkan sebuah kenaikan pertumbuhan dalam retorika ketika jumlah,
jenis, dan pengaruh simbol-simbol meningkat. Penemuan media massa menghadirkan
fokus baru dalam visual dan verbal. Retorika bergeser fokusnya dari pidato ke
semua jenis penggunaan simbol. Lembaga-lembaga media massa dibangun untuk
meneliti propaganda, mulai meneliti periklanan, dan pesan-pesan sudut pandang
retorika yang disampaikan melalui media massa.
7.6
Post modern (abad ke 20 – abad ke 21)
Kecenderungan
lain yang muncul pada abad ini telah menjadi jembatan antara retorika dengan
post-modernisme, ahlis-ahli teori retorika post-modern mengistimewakan
pendirian akan ras, kelas, gender, dan seksualitas ketika mereka masuk ke dalam
pengalaman kehidupan khusus seseorang. Penganut paham feminis dan
praktik-praktik retorika gender sering kali masuk ke dalam bidang post-modern,
sama seperti teori queer.
Diambil dari buku Little John edisi 9
Ikuti @hanifa_rica
No comments:
Post a Comment
Silahkan baca dan share