BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang Penelitian
Perkembangan media massa di Indonesia
cukup menakjubkan, perkembangan tersebut dapat dilihat dari peningkatan jumlah industri
penyiaran. Jika pada tahun 2008 Indonesia hanya memiliki 6 stasiun televisi,
pada tahun 2012 meningkat menjadi 62 stasiun televisi (Data Ditjen PPI, 2012),
hal yang sama terjadi pada kondisi penyiaran radio, jika tahun 1998 jumlah
stasiun radio kurang dari 1000, akhir tahun 2010 telah ada sekitar 2590 lembaga
penyiaran radio yang berproses di Kemenkominfo (Data PRSSNI 2011 dalam kominfo.go.id, 11 November 2013). Perkembangan
tersebut mulai bangkit pasca runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 menuju
era Reformasi, di era itulah pemerintah menerbitkan UU No. 40 Tahun 1999
tentang pers. Dalam UU ini, istilah kebebasan pers disepakati menjadi
kemerdekaan pers, yakni salah satu wujud kedaulatan rakyat berdasarkan
prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum (Wibowo, 2009:88).
Pada zaman inilah setiap orang berlomba-lomba menginformasikan segala sesuatu melalui
media massa.
Kehadiran media massa sebagai penyedia
informasi memiliki daya pemaksa yang sungguh luar biasa. Bahkan media massa
memiliki keperkasaan mengonstruksi sebuah tatanan kehidupan manusia.
Argumentasi ini merujuk pada hasil penelitian Harold Lasswell bahwa media massa
menyediakan stimuli perkasa yang secara seragam mampu membangkitkan desakan
emosi yang hampir tidak terkontrol oleh individu (Jalaluddin Rahmat, 1991: 197
dalam Khoiro Ummatin, 2008: 137). Atas dasar temuan ini, maka keperkasaan media
informasi yang memiliki tingkat efektifitas dan efisiensi sangat tinggi dapat
pula digunakan sebagai sarana dakwah, agar kegiatan dakwah mampu menjangkau
pada komunitas sasaran dakwah yang lebih luas (Khoiro Ummatin, 2008: 137). Salah satu bentuk media massa yang
potensial untuk mendukung perkembangan dakwah adalah radio. Media siaran ini
memiliki kemampuan tinggi untuk mengantarkan dan menyebarkan pesan-pesan dakwah
secara cepat dan serentak kepada khalayak luas, yang berada di tempat terpencar
sampai ke tempat-tempat yang jauh terpencil dan sulit dicapai angkutan umum. Sudah
lebih dari sepuluh tahun, sejak lahirnya UU No. 32 tentang Penyiaran, kondisi lembaga
penyiaran radio di Indonesia secara kuantitatif mengalami lonjakan yang cukup fantastis
seiring dengan adanya penambahan kanal FM, yang semula 3297 kanal menjadi 8210 kanal
berdasarkan Permen Kemenkominfo No. 13 Tahun 2010 tentang revisi KM No. 15
Tahun 2003 (Program Umum PRSSNI 2011/2015 dalam situs www.radioprssni.com).
Sejak awal perkembangan radio di
Indonesia, hanya ada dua jenis radio yang keberadaannya telah diakui pemerintah,
yakni radio publik dan radio komersil, sementara radio komunitas merupakan
jenis media penyiaran yang baru diakui seiring diberlakukannya UU No. 32 Tahun
2002 tentang Penyiaran. Radio semacam ini seringkali dicap miring oleh
pemerintah dan kalangan legal sebagai radio gelap, perusak dan pengganggu
frekuensi, atau radio bawah tanah yang selalu dibayang-bayangi sweeping. Bahkan pemerintah menganggap
bahwa radio komunitas dapat memicu konflik dan menyebabkan disintegrasi bangsa
bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) serta pemborosan spektrum
frekuensi radio (Aryo Subarkah Eddyono 2008: 283).
Akan tetapi, pasca Rezim Orde Baru hingga setelah diberlakukannya UU No. 32
tahun 2002, radio jenis ini mulai menjamur. Jumlahnya semakin bertambah di
berbagai pelosok tanah air seolah-olah
ingin mengimbangi jumlah gabungan radio komersil dan radio publik (Efendi Ghazali, 2002: 78-80).
Saat ini di Indonesia terdapat lebih
dari 300 radio komunitas, radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh
wilayah Indonesia (www.rakita.org)
salah satunya adalah di Kabupaten Bogor. Berdasarkan data yang diperoleh dari asianwave.net, Kabupaten Bogor saat ini
memiliki 22 stasiun radio, 7 diantaranya adalah radio komunitas salah satunya
Radio Rodja yang akhir-akhir ini menjadi topic perbincangan sebagian kalangan umat
Islam. Rodja atau kepanjangan dari Radio
Dakwah Ahlussunnah Waljama’ah ini telah dirintis sejak awal tahun 2005, dan
berkat semangat serta kerja keras kaum pemuda di Kampung Tengah Cileungsi Bogor
tersebut, Rodja telah resmi mengudara pada tahun 2007 di frekuensi 756 AM kHz (www.radiorodja.com).
Sebagai agama yang besar, sejarah Islam
diwarnai dengan munculnya berbagai aliran dan madzhab yang tumbuh di
negeri-negeri Muslim, salah satunya Indonesia. Meskipun bukan negara Islam,
tetapi Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di
dunia, yakni sekitar 88% atau sebanyak 195.627.000 jiwa dari 222.051.000 jumlah
total penduduk Indonesia adalah Muslim. Data ini diperoleh dari website statistic.ptkpt.net tahun 2006.
Penelitian lain yang berkaitan dengan
eksistensi radio komunitas dilakukan oleh…
Peneliti bermaksud mengadakan penelitian
lanjutan berdasarkan penelitian terdahulu yaitu mengenai radio komunitas.
Penelitian ini berupa wawancara mendalam terhadap crew atau staff Radio Rodja
Cileungsi Bogor yakni mengenai eksistensi Radio Rodja di tengah masyarkat dalam
menumbuhkembangkan dakwah sunnah yang belum pernah dilakukan.
2.
Perumusan
Masalah
2.1 Bagaimana
eksistensi radio komunitas Rodja dapat dipertahankan dalam pandangan khalayak
pecinta radio?
2.2 Bagaimana
eksistensi radio rodja dalam menumbuhkembangkan acara dakwah sunnah sebagai
acara unggulan?
BAB
II
Radio
Komunitas
Komunitas
Radio
Radio
Komunitas
Edwin
Jurriend mencatat eksistensi radio komunitas Indonesia merupakan perkembangan
terpenting dari evolusi radio yang bervisi demokrasi setelah runtuhnya rezim
Soeharto (dalam Masduki, 2005: 151)
Eksistensi
Adalah
keberadaan, wujud yang tampak dari suatu benda yang membedakan antara suatu
benda dengan benda yang lain (Tim Prima Pena, 2006:103).
Eksistensi juga merupakan keadaan berkat kesadaran manusia mampu melampaui
situasi-situasi yang melingkarinya, mampu mengatasi apa yang fakum dan daktum
lengkap dalam proses yang transedensi melampaui pagar-pagar yang membatasi alam
pengukungnya (Sutrisno, 2005:335).
2.1 Penelitian
terdahulu
1. Aryo
Subarkah Eddyono. Sosiologi Media: Studi Kasus Terhadap Eksistensi Sebuah Radio
Komunitas di Yogyakarta. Jurnal Ilmu-ilmu Social (d/h MADANI), vol, 9; No. 3
Oktober 2008: 283-302
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus
tunggal deskriptif-eksploratif yang bertujuan menelusuri, menyingkap, dan
menggambarkan secara rinci eksistensi suatu radio komunitas di Yogyakarta.
Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam dan pengamatan
langsung. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan meninjau dokumen
tertulis. Pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling. Hasil
penelitian memperlihatkan, eksistensi radio komunitas yang ditelaah sangat
berkaitan dengan hadirnya jaringan lembaga pendukungnya. Akan tetapi,
partisipasi komunitas yang diwakilinya belumlah optimal. Keberadaan radio
komunitas ini di tengah masyarakat Terban, Yogyakarta, masih belum membumi.
2. Heri
Sunarno. Dosen fakultas ilmu social ilmu politik universitas yudharta pasuruan.
Strategi Radio Komunitas Dalam Mempertahankan Eksistensinya
Penelitian ini didasari atas semakin terkikisnya
Radio Komunitas wilayah Pasuruan dalam bidang siarannya, maka untuk itu dirasa
penting untuk meningkatkan strategi managemen di dunia penyiaran radio
Komunitas. Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif
kualitatif, dengan menggunakan pendekatan berupa observasi, wawancara dan
dokumentasi. Target interview dan observasi adalah staf (pengurus) radio Komunitas
Duta FM digunakan untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan dalam
penyiaran, sedangkan interview pada audien (khalayak sasaran) adalah sebagai
pengukur secara deskriptif tentang seberapa jauh program siaran yang diterapkan
Duta FM diminati oleh khalayak sasaran. Temuan dari penelitian ini adalah,
bahwa strategi komunikasi dan manajemen siaran yang dilakukan Duta FM kurang
mengena dalam hal aplikasinya. Dikarenakan kurang maksimal dalam penerapan manajemen
penyiaran.
3. Subarkah,
Aryo. (2012). Analisis Strategi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dalam
Menyelamatkan eksistensi Radio Komunitas. Jurnal komunikator Volume 4, Nomor 1,
Mei 2012
Radio gagal karena peraturan Negara atau pemerintah
terlalu mengekang gerakan radio komunitas. Sebagai hasilnya radio komunitas
tidak bisa menyelesaikan masalah internalnya sendiri agar mampu bertahan pada
jangka waktu yang panjang. Sayangnya, studi dari penulis tidak mendapatkan
jawaban tentang peran jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dalam membuat
serangkaian strategi untuk menyelamatkan hidup radio komunitas di bawah
jaringannya, termasuk Radio Angkringan dan Radio Panagati. Studi ini
menggunakan riset kualitatif dan mengadopsi perspektif Gramsci tentang gerakan
social dan intellectual organic untuk memahami strategi yang digunakan JRKI
dalam menyelamatkan keberadaan radio komunitas. Sebagai hasil, strategi JRKI
masih mempunyai banyak kelemahan. JRKI tampak kehabisan energy untuk
menyelamatkan radio komunitas.
Ada beberapa studi yang mempertanyakan eksistensi
radio komunitas, salah satunya adalah tentang radio komunitas pada radio
panagati di Jogjakarta di tahun 2004, dengan temuan yang menggambarkan bahwa
radio ini belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan warga setempat terhadap
informasi dan hiburan. Keberadaannya belum mampu mengadopsi konsep dari, oleh,
dan untuk masyarakat. Meskipun dalam pembentukannya keterlibatan sejumlah warga
sudah terpenuhi (Eddono, 2008: 283-301). Ketika radio komunitas belum mampu
menjawab kebutuhan komunitasnya. Pada kondisi tersebut, partisipasi warga
dianggap lemah. Perlu dipahami, partisipasi warga yang kuat akan mendukung
keberadaan radio komunitas. Pada penelitian berikutnya di tahun 2011, penulis
menemukan fakta bahwa Radio Panagati dan Radio Angkringan di Jogjakarta, yang
sebelumnya masih harus berjuang keras mendapatkan pendengarnya, sudah tak
bersiaran (Eddyono, 2011). Radio panagati dan radio angkringan tak pernah
mencapai bentuknya sebagai radio komunitas sesungguhnya. Keduanya tidak
berhasil menjalankan peran sebagai media perlawanan, dan tidak sepenuhnya
menerapkan konsep dari, oleh, dan untuk komunitas. Dari hasil penelitian,
penyebab ketidakaktifan kedua radio diakibatkan dua factor, yakni: internal dan
eksternal. Istilah internal dan eksternal hanya sebagai alat bantu saja untuk
memetakan atau mengkategorikan permasalahan radio komunitas yang ditemukan saat
penelitian berlangsung. Permasalahan internal berarti permasalahan yang muncul
dari dalam radio komunitas. Sementara permasalahan eksternal adalah
permasalahan yang berasal dari luar radio komunitas. Factor internal meliputi
keterbatasan kru dan dana, lemahnya partisipasi warga, dan peralatan yang tidak
memadai. Factor eksternal, meliputi adanya aturan yang dikeluarkan negara untuk
membatasi gerak-gerik radio komunitas. Aturan ini menyoal pembatasan perolehan
dana bagi radio komunitas, pembatasan izin frekuensi, serta pengurusan izin
yang rumit dan tidak sedikit menghabiskan dana bagi radio sekelas radio komunitas.
Factor yang paling berperan dalam mendukung ketidak aktifan radio komunitas
adalah factor eksternal yang bersinggungan dengan pemerintah. Sejumlah aturan
yang dikeluarkan pemerintah turut menghalangi radio komunitas dalam mengatasi
persoalan internal yang sudah sejak lama ada.
4. Arini
Rosdiana. (2011). Strategi Komunikasi Marketing Radio Dakta 107 FM Dalam
Meningkatkan Eksistensi di Kalangan Pendengar. Skripsi Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Skripsi ini membahas tentang bagaimana strategi
komunikasi marketing radio Dakta 107 FM dalam meningkatkan eksistensi di
kalangan pendengan sesuai dengan tugas masing-masing. Dan penelitian ini
bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut ini. Pertama, bagaimana strategi
komunikasi marketing yang dilakukan radio Dakta untuk meningkatkan
eksistensinya di kalangan pendengar? Kedua, bagaimana bentuk komunikasi yang
diterapkan para marketing untuk meningkatkan rating pendenga? Metode yang digunakan penulis untuk mencari
data yang diperlukan adalah metode deskriptif analisis melalui pendekatan
kualitatif, yaitu dengan cara melalui observasi lapangan, wawancara dan
dokumentasi di radio Dakta secara langsung. Kesimpulan yang dapat dijelaskan
bahwa strategi komunikasi marketing radio Dakta adalah pertama dengan membuat
strategi, kedua penerapan strategi dan evaluasi strategi. Bentuk komunikasi
yang digunakannya adalah Komunikasi Interpersonal (komunikasi antar pribadi),
Komunikasi Kelompok, Komunikasi Organisasi, serta dukungan dari performa
komunikasi yang baik dapat meningkatkan eksistensi radio Dakta di kalangan
pendengar.
5. Dinda
Pramitasari. (2012). Strategi Komunikasi Radio Komunitas Angkringan 107,8 FM
Dalam Mempertahankan Eksistensi. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana.
Radio
ini memiliki strategi tertentu yang tidak dimiliki oleh radio lain, sehingga
radio ini masih bisa eksis di mata para pendengarnya. Strategi ini dapat
dilihat dari beberapa aspek, berdasarkan teori Niche, yang dapat dibilang
menjadi sumber pendukung eksistensi media tersebut, yaitu konten, audience, dan
capital. Dalam hal ini, ideology juga merupakan satu factor pendukung
eksistensi sebuah radio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
strategi Radio Komunitas Angkringan dalam mempertahankan eksistensinya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan
kualitatif deskriptif. Untuk unit amatan dari penelitian ini sendiri adalah
Radio Komunitas Angkringan, dengan unit analisis yaitu strategi yang dipakai
oleh Radio Komunitas Angkringan untuk tetap dapat mempertahankan eksistensinya.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa aspek ideology merupakan aspek
yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensi sebuah radio komunitas.
Pola komunikasi yang efektif juga merupakan kunci keberhasilan radio ini, yang
dibuktikan dengan kokohnya kerjasama dari jejaring yang dibangun. Bukan hanya
itu, pola komunikasi efektifpun terlihat diantara para pengelola sehingga
timbul kebersamaan dan rasa saling menghargai. Loyalitas audien juga merupakan
hal yang sangat dijaga oleh Radio Komunitas Angkringan, hingga akhirnya
eksistensi radio ini tetap bertahan di masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA.
1. Data
Jumlah Penduduk Agama Islam di Seluruh Dunia. http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=agama-1&info1=3
data diambil pada tanggal 28 maret 2015
2. Kominfo. Konvensi RSKKNI Produser TV. 15 Novermber 2013. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3464/Konvensi+RSKKNI+Produser+TV/0/berita_satker#.VSN4VY5h2L4 data diambil pada tanggal 06 April 2015.
3. Program Umum PRSSNI Periode 2011-2015. http://www.radioprssni.com/prssninew/internallink/Program%20Umum%20PRSSNI%202011.pdf data ini diambil pada tanggal 6 April 2015
4. Penjelasan
atas Undang-ndang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. http://www.radioprssni.com/prssninew/internallink/legal/penjelasan_uu_pers.htm
data ini diambil pada tanggal 6 april 2015
5. Khoiro Ummatin. Globalisasi Komunikasi dan Tuntutan Dakwah Bermedia.
Jurnal dakwah, Vol IX No. 2, Juli - Desember 2008
6. Tentang
Radio Komunitas. http://www.rakita.org/rakom.html
data ini diambil pada tanggal 6 april 2015
9. Subarkah,
Aryo. (2008). Sosiologi Media: Studi Kasus Terhadap Eksistensi sebuah Radio
Komunitas di Yogyakarta. Jurnal MADANI. Vol. 9 No. 3, Oktober 2008, hal 283.
10. Subarkah, Aryo. (2012). Analisis Strategi Jaringan Radio Komunitas
Indonesia (JRKI) dalam Menyelamatkan eksistensi Radio Komunitas. Jurnal
komunikator Volume 4, Nomor 1, Mei 2012
11. Wahyu Wibowo. 2009. Menuju Jurnalisme Beretika: Peran Bahasa,
Bisnis, dan Politik di Era Mondial. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
No comments:
Post a Comment
Silahkan baca dan share