Home About
JIKA ADA YANG DITANYAKAN ATAU DATA YANG KALIAN BUTUHKAN, SILAHKAN BERKOMENTAR PADA MATERI TERSEBUT...TERIMAKASIH

Monday, 16 December 2019

Bimbingan Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang Penelitian
Perkembangan media massa di Indonesia cukup menakjubkan, perkembangan tersebut dapat dilihat dari peningkatan jumlah industri penyiaran. Jika pada tahun 2008 Indonesia hanya memiliki 6 stasiun televisi, pada tahun 2012 meningkat menjadi 62 stasiun televisi (Data Ditjen PPI, 2012), hal yang sama terjadi pada kondisi penyiaran radio, jika tahun 1998 jumlah stasiun radio kurang dari 1000, akhir tahun 2010 telah ada sekitar 2590 lembaga penyiaran radio yang berproses di Kemenkominfo (Data PRSSNI 2011 dalam kominfo.go.id, 11 November 2013). Perkembangan tersebut mulai bangkit pasca runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 menuju era Reformasi, di era itulah pemerintah menerbitkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers. Dalam UU ini, istilah kebebasan pers disepakati menjadi kemerdekaan pers, yakni salah satu wujud kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum (Wibowo, 2009:88). Pada zaman inilah setiap orang berlomba-lomba menginformasikan segala sesuatu melalui media massa.
Kehadiran media massa sebagai penyedia informasi memiliki daya pemaksa yang sungguh luar biasa. Bahkan media massa memiliki keperkasaan mengonstruksi sebuah tatanan kehidupan manusia. Argumentasi ini merujuk pada hasil penelitian Harold Lasswell bahwa media massa menyediakan stimuli perkasa yang secara seragam mampu membangkitkan desakan emosi yang hampir tidak terkontrol oleh individu (Jalaluddin Rahmat, 1991: 197 dalam Khoiro Ummatin, 2008: 137). Atas dasar temuan ini, maka keperkasaan media informasi yang memiliki tingkat efektifitas dan efisiensi sangat tinggi dapat pula digunakan sebagai sarana dakwah, agar kegiatan dakwah mampu menjangkau pada komunitas sasaran dakwah yang lebih luas (Khoiro Ummatin, 2008: 137). Salah satu bentuk media massa yang potensial untuk mendukung perkembangan dakwah adalah radio. Media siaran ini memiliki kemampuan tinggi untuk mengantarkan dan menyebarkan pesan-pesan dakwah secara cepat dan serentak kepada khalayak luas, yang berada di tempat terpencar sampai ke tempat-tempat yang jauh terpencil dan sulit dicapai angkutan umum. Sudah lebih dari sepuluh tahun, sejak lahirnya UU No. 32 tentang Penyiaran, kondisi lembaga penyiaran radio di Indonesia secara kuantitatif mengalami lonjakan yang cukup fantastis seiring dengan adanya penambahan kanal FM, yang semula 3297 kanal menjadi 8210 kanal berdasarkan Permen Kemenkominfo No. 13 Tahun 2010 tentang revisi KM No. 15 Tahun 2003 (Program Umum PRSSNI 2011/2015 dalam situs www.radioprssni.com).
Sejak awal perkembangan radio di Indonesia, hanya ada dua jenis radio yang keberadaannya telah diakui pemerintah, yakni radio publik dan radio komersil, sementara radio komunitas merupakan jenis media penyiaran yang baru diakui seiring diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Radio semacam ini seringkali dicap miring oleh pemerintah dan kalangan legal sebagai radio gelap, perusak dan pengganggu frekuensi, atau radio bawah tanah yang selalu dibayang-bayangi sweeping. Bahkan pemerintah menganggap bahwa radio komunitas dapat memicu konflik dan menyebabkan disintegrasi bangsa bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) serta pemborosan spektrum frekuensi radio (Aryo Subarkah Eddyono 2008: 283). Akan tetapi, pasca Rezim Orde Baru hingga setelah diberlakukannya UU No. 32 tahun 2002, radio jenis ini mulai menjamur. Jumlahnya semakin bertambah di berbagai pelosok tanah air seolah-olah  ingin mengimbangi jumlah gabungan radio komersil dan radio publik (Efendi Ghazali, 2002: 78-80).
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 300 radio komunitas, radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia (www.rakita.org) salah satunya adalah di Kabupaten Bogor. Berdasarkan data yang diperoleh dari asianwave.net, Kabupaten Bogor saat ini memiliki 22 stasiun radio, 7 diantaranya adalah radio komunitas salah satunya Radio Rodja yang akhir-akhir ini menjadi topic perbincangan sebagian kalangan umat Islam. Rodja atau kepanjangan dari Radio Dakwah Ahlussunnah Waljama’ah ini telah dirintis sejak awal tahun 2005, dan berkat semangat serta kerja keras kaum pemuda di Kampung Tengah Cileungsi Bogor tersebut, Rodja telah resmi mengudara pada tahun 2007 di frekuensi 756 AM kHz (www.radiorodja.com).
Sebagai agama yang besar, sejarah Islam diwarnai dengan munculnya berbagai aliran dan madzhab yang tumbuh di negeri-negeri Muslim, salah satunya Indonesia. Meskipun bukan negara Islam, tetapi Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 88% atau sebanyak 195.627.000 jiwa dari 222.051.000 jumlah total penduduk Indonesia adalah Muslim. Data ini diperoleh dari website statistic.ptkpt.net tahun 2006. 
Penelitian lain yang berkaitan dengan eksistensi radio komunitas dilakukan oleh…
Peneliti bermaksud mengadakan penelitian lanjutan berdasarkan penelitian terdahulu yaitu mengenai radio komunitas. Penelitian ini berupa wawancara mendalam terhadap crew atau staff Radio Rodja Cileungsi Bogor yakni mengenai eksistensi Radio Rodja di tengah masyarkat dalam menumbuhkembangkan dakwah sunnah yang belum pernah dilakukan.
2.     Perumusan Masalah
2.1     Bagaimana eksistensi radio komunitas Rodja dapat dipertahankan dalam pandangan khalayak pecinta radio?
2.2     Bagaimana eksistensi radio rodja dalam menumbuhkembangkan acara dakwah sunnah sebagai acara unggulan?

















BAB II
Radio
Komunitas
Komunitas Radio
Radio Komunitas
Edwin Jurriend mencatat eksistensi radio komunitas Indonesia merupakan perkembangan terpenting dari evolusi radio yang bervisi demokrasi setelah runtuhnya rezim Soeharto (dalam Masduki, 2005: 151)
Eksistensi
Adalah keberadaan, wujud yang tampak dari suatu benda yang membedakan antara suatu benda dengan benda yang lain (Tim Prima Pena, 2006:103). Eksistensi juga merupakan keadaan berkat kesadaran manusia mampu melampaui situasi-situasi yang melingkarinya, mampu mengatasi apa yang fakum dan daktum lengkap dalam proses yang transedensi melampaui pagar-pagar yang membatasi alam pengukungnya (Sutrisno, 2005:335).
2.1 Penelitian terdahulu
1.     Aryo Subarkah Eddyono. Sosiologi Media: Studi Kasus Terhadap Eksistensi Sebuah Radio Komunitas di Yogyakarta. Jurnal Ilmu-ilmu Social (d/h MADANI), vol, 9; No. 3 Oktober 2008: 283-302
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus tunggal deskriptif-eksploratif yang bertujuan menelusuri, menyingkap, dan menggambarkan secara rinci eksistensi suatu radio komunitas di Yogyakarta. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam dan pengamatan langsung. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan meninjau dokumen tertulis. Pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling. Hasil penelitian memperlihatkan, eksistensi radio komunitas yang ditelaah sangat berkaitan dengan hadirnya jaringan lembaga pendukungnya. Akan tetapi, partisipasi komunitas yang diwakilinya belumlah optimal. Keberadaan radio komunitas ini di tengah masyarakat Terban, Yogyakarta, masih belum membumi.
2.     Heri Sunarno. Dosen fakultas ilmu social ilmu politik universitas yudharta pasuruan. Strategi Radio Komunitas Dalam Mempertahankan Eksistensinya
Penelitian ini didasari atas semakin terkikisnya Radio Komunitas wilayah Pasuruan dalam bidang siarannya, maka untuk itu dirasa penting untuk meningkatkan strategi managemen di dunia penyiaran radio Komunitas. Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pendekatan berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Target interview dan observasi adalah staf (pengurus) radio Komunitas Duta FM digunakan untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan dalam penyiaran, sedangkan interview pada audien (khalayak sasaran) adalah sebagai pengukur secara deskriptif tentang seberapa jauh program siaran yang diterapkan Duta FM diminati oleh khalayak sasaran. Temuan dari penelitian ini adalah, bahwa strategi komunikasi dan manajemen siaran yang dilakukan Duta FM kurang mengena dalam hal aplikasinya. Dikarenakan kurang maksimal dalam penerapan manajemen penyiaran.
3.     Subarkah, Aryo. (2012). Analisis Strategi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dalam Menyelamatkan eksistensi Radio Komunitas. Jurnal komunikator Volume 4, Nomor 1, Mei 2012
Radio gagal karena peraturan Negara atau pemerintah terlalu mengekang gerakan radio komunitas. Sebagai hasilnya radio komunitas tidak bisa menyelesaikan masalah internalnya sendiri agar mampu bertahan pada jangka waktu yang panjang. Sayangnya, studi dari penulis tidak mendapatkan jawaban tentang peran jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dalam membuat serangkaian strategi untuk menyelamatkan hidup radio komunitas di bawah jaringannya, termasuk Radio Angkringan dan Radio Panagati. Studi ini menggunakan riset kualitatif dan mengadopsi perspektif Gramsci tentang gerakan social dan intellectual organic untuk memahami strategi yang digunakan JRKI dalam menyelamatkan keberadaan radio komunitas. Sebagai hasil, strategi JRKI masih mempunyai banyak kelemahan. JRKI tampak kehabisan energy untuk menyelamatkan radio komunitas.
Ada beberapa studi yang mempertanyakan eksistensi radio komunitas, salah satunya adalah tentang radio komunitas pada radio panagati di Jogjakarta di tahun 2004, dengan temuan yang menggambarkan bahwa radio ini belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan warga setempat terhadap informasi dan hiburan. Keberadaannya belum mampu mengadopsi konsep dari, oleh, dan untuk masyarakat. Meskipun dalam pembentukannya keterlibatan sejumlah warga sudah terpenuhi (Eddono, 2008: 283-301). Ketika radio komunitas belum mampu menjawab kebutuhan komunitasnya. Pada kondisi tersebut, partisipasi warga dianggap lemah. Perlu dipahami, partisipasi warga yang kuat akan mendukung keberadaan radio komunitas. Pada penelitian berikutnya di tahun 2011, penulis menemukan fakta bahwa Radio Panagati dan Radio Angkringan di Jogjakarta, yang sebelumnya masih harus berjuang keras mendapatkan pendengarnya, sudah tak bersiaran (Eddyono, 2011). Radio panagati dan radio angkringan tak pernah mencapai bentuknya sebagai radio komunitas sesungguhnya. Keduanya tidak berhasil menjalankan peran sebagai media perlawanan, dan tidak sepenuhnya menerapkan konsep dari, oleh, dan untuk komunitas. Dari hasil penelitian, penyebab ketidakaktifan kedua radio diakibatkan dua factor, yakni: internal dan eksternal. Istilah internal dan eksternal hanya sebagai alat bantu saja untuk memetakan atau mengkategorikan permasalahan radio komunitas yang ditemukan saat penelitian berlangsung. Permasalahan internal berarti permasalahan yang muncul dari dalam radio komunitas. Sementara permasalahan eksternal adalah permasalahan yang berasal dari luar radio komunitas. Factor internal meliputi keterbatasan kru dan dana, lemahnya partisipasi warga, dan peralatan yang tidak memadai. Factor eksternal, meliputi adanya aturan yang dikeluarkan negara untuk membatasi gerak-gerik radio komunitas. Aturan ini menyoal pembatasan perolehan dana bagi radio komunitas, pembatasan izin frekuensi, serta pengurusan izin yang rumit dan tidak sedikit menghabiskan dana bagi radio sekelas radio komunitas. Factor yang paling berperan dalam mendukung ketidak aktifan radio komunitas adalah factor eksternal yang bersinggungan dengan pemerintah. Sejumlah aturan yang dikeluarkan pemerintah turut menghalangi radio komunitas dalam mengatasi persoalan internal yang sudah sejak lama ada.
4.     Arini Rosdiana. (2011). Strategi Komunikasi Marketing Radio Dakta 107 FM Dalam Meningkatkan Eksistensi di Kalangan Pendengar. Skripsi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Skripsi ini membahas tentang bagaimana strategi komunikasi marketing radio Dakta 107 FM dalam meningkatkan eksistensi di kalangan pendengan sesuai dengan tugas masing-masing. Dan penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut ini. Pertama, bagaimana strategi komunikasi marketing yang dilakukan radio Dakta untuk meningkatkan eksistensinya di kalangan pendengar? Kedua, bagaimana bentuk komunikasi yang diterapkan para marketing untuk meningkatkan rating pendenga?  Metode yang digunakan penulis untuk mencari data yang diperlukan adalah metode deskriptif analisis melalui pendekatan kualitatif, yaitu dengan cara melalui observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi di radio Dakta secara langsung. Kesimpulan yang dapat dijelaskan bahwa strategi komunikasi marketing radio Dakta adalah pertama dengan membuat strategi, kedua penerapan strategi dan evaluasi strategi. Bentuk komunikasi yang digunakannya adalah Komunikasi Interpersonal (komunikasi antar pribadi), Komunikasi Kelompok, Komunikasi Organisasi, serta dukungan dari performa komunikasi yang baik dapat meningkatkan eksistensi radio Dakta di kalangan pendengar.
5.     Dinda Pramitasari. (2012). Strategi Komunikasi Radio Komunitas Angkringan 107,8 FM Dalam Mempertahankan Eksistensi. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana.
Radio ini memiliki strategi tertentu yang tidak dimiliki oleh radio lain, sehingga radio ini masih bisa eksis di mata para pendengarnya. Strategi ini dapat dilihat dari beberapa aspek, berdasarkan teori Niche, yang dapat dibilang menjadi sumber pendukung eksistensi media tersebut, yaitu konten, audience, dan capital. Dalam hal ini, ideology juga merupakan satu factor pendukung eksistensi sebuah radio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi Radio Komunitas Angkringan dalam mempertahankan eksistensinya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Untuk unit amatan dari penelitian ini sendiri adalah Radio Komunitas Angkringan, dengan unit analisis yaitu strategi yang dipakai oleh Radio Komunitas Angkringan untuk tetap dapat mempertahankan eksistensinya. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa aspek ideology merupakan aspek yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensi sebuah radio komunitas. Pola komunikasi yang efektif juga merupakan kunci keberhasilan radio ini, yang dibuktikan dengan kokohnya kerjasama dari jejaring yang dibangun. Bukan hanya itu, pola komunikasi efektifpun terlihat diantara para pengelola sehingga timbul kebersamaan dan rasa saling menghargai. Loyalitas audien juga merupakan hal yang sangat dijaga oleh Radio Komunitas Angkringan, hingga akhirnya eksistensi radio ini tetap bertahan di masyarakat.























DAFTAR PUSTAKA.
1.     Data Jumlah Penduduk Agama Islam di Seluruh Dunia. http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=agama-1&info1=3 data diambil pada tanggal 28 maret 2015
2.     Kominfo. Konvensi RSKKNI Produser TV. 15 Novermber 2013. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3464/Konvensi+RSKKNI+Produser+TV/0/berita_satker#.VSN4VY5h2L4 data diambil pada tanggal 06 April 2015.
3.     Program Umum PRSSNI Periode 2011-2015. http://www.radioprssni.com/prssninew/internallink/Program%20Umum%20PRSSNI%202011.pdf data ini diambil pada tanggal 6 April 2015
4.     Penjelasan atas Undang-ndang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. http://www.radioprssni.com/prssninew/internallink/legal/penjelasan_uu_pers.htm data ini diambil pada tanggal 6 april 2015
5.     Khoiro Ummatin. Globalisasi Komunikasi dan Tuntutan Dakwah Bermedia. Jurnal dakwah, Vol IX No. 2, Juli - Desember 2008
6.     Tentang Radio Komunitas. http://www.rakita.org/rakom.html data ini diambil pada tanggal 6 april 2015
7.     Profil Radio Rodja dan Rodja TV. http://www.radiorodja.com/about/
8.     Radio Station in Bogor West Java Indonesia. http://www.asiawaves.net/indonesia/bogor-radio.htm
9.     Subarkah, Aryo. (2008). Sosiologi Media: Studi Kasus Terhadap Eksistensi sebuah Radio Komunitas di Yogyakarta. Jurnal MADANI. Vol. 9 No. 3, Oktober 2008, hal 283.
10.  Subarkah, Aryo. (2012). Analisis Strategi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dalam Menyelamatkan eksistensi Radio Komunitas. Jurnal komunikator Volume 4, Nomor 1, Mei 2012
11.  Wahyu Wibowo. 2009. Menuju Jurnalisme Beretika: Peran Bahasa, Bisnis, dan Politik di Era Mondial. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara


No comments:

Post a Comment

Silahkan baca dan share