Home About
JIKA ADA YANG DITANYAKAN ATAU DATA YANG KALIAN BUTUHKAN, SILAHKAN BERKOMENTAR PADA MATERI TERSEBUT...TERIMAKASIH

Wednesday, 11 December 2019

Sosialisasi

Bab 2
SOSIALISASI


2.1. Definisi
2.2. Pandangan tentang Sosialisasi
       2.2.1. Georg Herbert Mead
       2.2.2. Charles H. Cooley
2.3. Agen-Agen Sosialisasi
       2.3.1. Keluarga
       2.3.2. Kelompok Bermain
       2.3.3. Sekolah
       2.3.4. Media Massa
2.4. Bentuk-bentuk Lain Sosialisasi
       2.4.1. Sosialisasi Primer dan Sekunder
       2.4.2. Desosialisasi dan Resosialisasi
       2.4.3. Cuci Otak (brainwashing)
       2.4.4. Sosialisasi Antisipatoris
       2.4.5. Sosialisasi Represif dan Partisipatoris


2. 1. Definisi
Di berbagai masyarakat manusia ada kebiasaan yang berbeda di segala bidang (ekonomi, politik, keluarga dsb). Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh faktor lingkungan. Misalnya masyarakat di Maluku makan sagu sebagai makanan pokok. Orang di Flores dan Timor makan jagung dan singkong sebagai makanan pokok. Orang di Pulau Jawa makan nasi sebagai makanan pokok.
Masyarakat yang berdiam di daerah pedalaman mengolah kebun dan sawah untuk menghasilkan padi. Masyarakat yang tinggal di pesisir menangkap ikan untuk kemudian dijual guna memenuhi kebutuhan lain. Penduduk yang tinggal dekat dengan kawasan hutan biasa berburu hewan liar yang banyak terdapat disitu.
Semua kebiasaan ini kemudian diajarkan kepada anak. Maka sejak kecil seorang anak diperkenalkan dan diajari semua kebiasaan itu karena kemudian setelah dewasa dia akan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakatnya. Proses pembelajaran terhadap kebiasaan-kebiasaan tersebut dinamakan sosialisasi.
Apa itu sosialisasi? Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai proses di mana anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (a process by which a child learns to be a participant member of society). Definisi ini diberikannya dalam buku Society in Man. Inti pemikiran Berger ialah bahwa melalui sosialisasi masyarakat dimasukkan ke dalam individu manusia.
Apa yang disosialisasikan dalam proses sosialisasi? Menurut Berger dan sejumlah sosiolog lain yang disosialisasikan ialah peran-peran (roles).

2.2. Pandangan Tentang Peran
Di bawah ini dikemukakan secara ringkas pendapat Georg Herbert Mead dan Charles H. Cooley tentang peran.

2.2.1. Georg Hebert Mead
Dalam buku Mind, Self, and Society (1972) Mead membahas tentang tahap pengembangan diri (self) manusia. Menurut Mead, ketika lahir manusia belum memiliki diri. Diri (self) baru berkembang tahap demi tahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Anggota baru masyarakat harus mempelajari pengambilan peran (role taking). Menguasai peran yang ada di masyarakat memungkinkan orang berinteraksi dengan orang lain.
Menurut Mead pengembangan diri manusia berlangsung dalam tiga tahap, yakni play stage, game stage, dan generalized stage. Pada play stage, anak kecil mengambil peran orang di sekitarnya (seperti ayah, ibu, ) atau significant others dan meniru. Tapi dia belum mengerti arti peran-peran yang ditirunya itu.
Pada game stage anak sudah mengetahui perannya. Dia juga mengenal peran orang lain yang menjadi mitra interaksinya. Misalnya, dengan mengikuti suatu pertandingan, anak lalu mengetahui apa yang diharapkan orang dari dirinya, juga apa yang diharapkan dari orang lain yang ikut bermain dalam pertandingan. Misalnya, penjaga gawang tahu perannya, tapi juga peran pemain lain, wasit, penjaga garis dll. Jadi, anak sudah dapat mengambil peran orang lain.
Pada tahap generalized stage anak mampu mengambil peran generalized others.  Dia mampu berinteraksi dengan orang di masyarakat karena telah kenal perannya sendiri dan peran orang lain. Sebagai anak, dia paham akan peran orang tua; sebagai siswa, dia tahu peran guru; sebagai saudara dia tahu peran kakak atau adik, dan seterusnya. Inilah tandanya bahwa seseorang sudah memiliki self. Jadi diri terbentuk melalui interaksi dengan orang lain dalam masyarakat.

2.2.2. Charles H. Cooley
Cooley menamakan diri yang berkembang melalui interaksi sosial dinamakan looking-glass self. Konsep diri berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Cooley melihat analogi antara pembentukan diri seseorang dengan perilaku orang yang sedang bercermin. Seperti halnya sebuah cermin memantulkan benda yang terdapat di depannya, demikian pula diri seseorang sebetulnya memantulkan apa yang dirasakannya sebagai tanggapan masyarakat terhadapnya.
Menurut Cooley, LGS terbentuk melalui tiga tahap. Tahap pertama, persepsi tentang pandangan orang lain terhadapnya. Misalnya seorang mahasiswa yang kerap mendapat nilai D merasa bahwa para dosen menganggapnya bodoh. Tahap kedua, persepsi mengenai penilaian orang  lain terhadap penampilannya. Dari contoh tadi, mahasiswa tadi merasa bahwa karena dinilai bodoh, maka ia kurang dihargai para dosennya. Tahap ketiga, perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu. Dari contoh yang sama, karena merasa kurang dihargai, maka mahasiswa itu menjadi murung.
Jadi, perasaan seseorang mengenai penilaian orang lain terhadap dirinya itulah yang menentukan penilaiannya mengenai diri sendiri. Jadi diri adalah pencerminan penilaian orang lain (looking-glass self).
Anak yang tidak mengalami sosialisasi tak dapat berinteraksi dengan orang lain. Ini misalnya dialami oleh feral children yakni anak-anak yang ditemukan dalam keadaan terlantar. Misalnya anak laki-laki berusia 11-12 tahun yang ditemukan di desa Saint-Serin, Prancis tahun 1900 (the wild boy of Avyron) atau gadis berusia 13 tahun di California yang disekap ayahnya dalam gudang gelap sejak berusia satu setengah tahun (Giddens 1990). Atau kasus Anna yang sejak bayi dikurung ibunya dalam gu selama lima tahun seperti dikisahkan Light, Keller, dan Calhoun.
Anak-anak yang tidak tersosialisasi itu (unsocialized children) tidak berperilaku sebagai manusia. Mereka misalnya tak dapat berpakaian, buang air besar dan kecil dengan tertib, atau berbicara. Anna tak dapat makan sendiri atau mengunyah, tertawa dan menangis. Setelah berkomunikasi dengan anak-anak sebaya, lambat laun mereka dapat memperlajari beberapa kemampuan anak-anak seusia mereka. Tapi karena sosialisasinya berlangsung tidak wajar mereka cenderung mati muda. Proses sosialisasi memang hanya mungkin pada periode tertentu saja, yakni pada masa anak-anak. Kalau berlangsung terlambat, kemampuan yang diperoleh hanya sebagian saja.

2.3. Agen Sosialisasi
Fuller dan Jacobs menyebut empat agen sosialisasi yakni keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan (sekolah). Di bawah ini diuraikan secara singkat tentang agen-agen sosialisasi tersebut.

2.3.1. Keluarga
Keluarga adalah ayah, ibu, saudara-saudara kandung. Pada masyarakat yang menganut sistem extended family masih ditambah nenek, kakek, paman, bibi dst. Pada keluarga modern yang suami istri bekerja,  sosialisasi mungkin dilakukan oleh orang lain yang bukan kerabat seperti pembantu rumah tangga, tetangga,  baby sitter, pekerja sosial, petugas panti penitipan dan lain-lain.
Gertrud Jaeger (1977) berpendapat bahwa peran keluarga sebagai agen sosialisasi pada tahap awal ini sangat penting. Masalahnya, karena proses sosialisasi ini bersifat tertutup (tidak diketahui pihak luar) maka ada risiko terjadi kesewenang-wenangan orangtua sehingga muncul kasus penganiayaan (child abuse) dsb.
Peran penting keluarga pada tahap ini adalah adanya kemampuan yang diajarkan kepada anak. Untuk dapat berinteraksi dengan significant others seorang bayi/anak belajar brkomunikasi secara verbal dan nonverbal (seperti sentuhan fisik). Pada tahap ini juga ditanamkan kemampuan bahasa. Anak mulai mempunyai diri, yakni memasuki play stage dalam proses pengambilan peran orang lain. Ia mulai mengidentifikasi diri sebagai laki atau perempuan. Para ahli berpendapat bahwa kemampuan-kemampuan tertentu hanya diajarkan pada periode tertentu saja dalam perkembangan fisik anak. Proses sosialisasi akan gagal jika dilaksanakan terlambat atau terlalu dini.

2.3.2. Kelompok Bermain
Sesudah mulai bepergian, agen sosialisasinya ialah teman bermain (kerabat, tetangga, teman sekolah). Anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya/sederajat. Inilah mulainya game stage (mempelajari aturan yang mengatur peran orang-orang yang sederajat). Pada tahap ini anak mulai mempelajari berbagai kemampuan baru. Dalam kelompok bermain ini anak juga mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.

2.3.3. Sekolah
Sesudah kelompok bermain, sistem pendidikan formal (sekolah) mulai menjalankan perannya sebagai agen sosialisasi. Sekolah merupakan jenjang peralihan dari keluarga ke masyarakat. Sekolah memperkenalkan aturan-aturan baru yang diperlukan bagi anggota masyarakat yang sering berbeda dengan aturan-aturan di rumah.
Anak mempelajari hal baru yang belum didapatinya di rumah atau kelompok bermain. Sekolah mempersiapkan anak untuk menguasai peran-peran baru di kemudian hari. Sosialisasi di keluarga dan sekolah berbeda. Di bawah ini diberikan perbedaan tentang sosialisasi di keluarga dan sekolah menurut Dreeben.

Sosialisasi di keluarga
Sosialisasi di sekolah

1.Anak belum mandiri, masih bergantung pada orangtua dan significant others  dalam mengerjakan tugas-tugasnya.


2.Peran anak terkait dengan askripsi (seperti peran sebagai anak laki-laki atau anak perempuan, sebagai adik atau kakak. Peran-peran ini dibawa sejak lahir).


3. Anak belajar tentang partikularisme. Anak mendapat perlakuan khusus dari orangtua karena dia adalah anak mereka. Anak orang lain tidak mendapat perlakuan sama.
4. Anak belajar tentang kekaburan (diffuseness).
Anak mempelajari aturan-aturan tentang:
1. Kemandirian: tugas-tugas harus dilaksanakan secara mandiri dan penuh tanggung jawab. Kerja sama diperkenankan sejauh tidak dilakukan penipuan atau kecurangan.
2. Prestasi: tugas-tugas harus dilakukan dengan rasa tanggungjawab. Kedudukan anak di suatu jenjang pendidikan hanya diraih melalui prestasi. Siswa didorong untuk mengembangkan kemampuan dan bersaing, guna meraih keberhasilan dan menghindari kegagalan.

3. Universalisme: anak-anak diperlakukan sama; tak ada perlakuan khusus.



4. Spesifisitas: kegiatan dan penilaian terhadap kelakuan anak dibatasi secara spesifik. Dia ditegur kalau gagal dalam bidang matematika, dipuji oleh guru bahasa Indonesia kalau nilai bahasa Indonesianya bagus.


2.3.4. Media Massa
Dewasa ini media massa, baik media cetak (surat kabar, majalah) maupun media elektronik (radio, televise, film, internet) semakin penting perannya sebagai agen sosialisasi. Apa yang disampaikan media massa mempengaruhi perilaku masyarakat. Perkembangan teknologi meningkatkan kualitas pesan dan frekuensi penerpaan masyarakat oleh media massa, khususnya elektronik.
Apa pengaruh media massa? Pesan-pesan yang disampaikan dapat mengarahkan khalayak kepada perilaku prososial dan antisocial. Laporan tentang perang dan kekerasan, atau film seri dan kartun bertema kekerasan dapat memicu perilaku agresif pada anak-anak atau orang yang menontonnya. Penayangan adegan berbau pornografi mengakibatkan perubahan moralitas dan peningkatan pelanggaran susila. Iklan-iklan yang ditayangkan di media massa juga dapat memicu perubahan pola konsumsi dan gaya hidup. Pemberitaan dan opini dari media massa juga mampu membentuk opini publik.
Pentingnya peran media massa juga dimanfaatkan untuk pendidikan. Televisi menyuguhkan program-program pendidikan untuk mempengaruhi pengetahuan, keterampilan dan sikap masyarakat.
Fuller dan Jacobs, berdasarkan penelitian di AS tentang dampak televisi, menemukan bahwa televisi menyita waktu anak-anak lebih banyak dari waktu untuk sekolah/belajar. Diketahui bahwa banyak dari acara yang ditonton anak-anak sebetulnya acara untuk orang dewasa. Kalau diamati dengan seksama, apa yang dilaporkan tentang AS di atas pun sudah terjadi di tanah air.
Masalah utama dari dampak televisi dalam sosialisasi adalah bahwa dampaknya sebagai agen sosialisasi belum diketahui (Fuller dan Jacobs). Bronfenbrenner (1970): media massa memberi sumbangan berarti bagi tumbuh dan dipertahankannya suatu tingkat kekerasan yang tinggi di masyarakat AS. Light, Keller dan Calhoun (mengutip penelitian Robert Hodge dan David Tripp, 1966 mengatakan bahwa televisi tidak memberikan pesan tunggal yang sederhana tapi menyajikan berbagai pesan yang rancu dan saling bertentangan; pesan televise membawa banyak dampak positif seperti merangsang interaksi, eksperimen dan pertumbuhan mental serta sosial anak.
Apakah pesan-pesan dari agen-agen sosialisasi di atas saling mendukung/bersesuaian? Tidak, pesan-pesan itu sering saling bertolak belakang. Yang diajarkan di rumah mungkin berbeda dengan yang diajarkan di sekolah dan media massa.Bila pesan-pesan itu saling mendukung, tentu proses sosialisasi berjalan lancar. Tapi karena pesan-pesan itu sering tidak sejalan satu sama lain, timbul konflik dalam diri seseorang, sehingga mengganggu proses sosialisasi.
Urie Bronfenbrenner (1970) dalam tulisannya mengatakan bahwa pola sosialisasi anak di AS lewat media massa, khususnya televis, cenderung menghasilkan anak berperilaku antisosial dibanding pola di Uni Soviet. Di AS peran orangtua berkurang, sedangkan peran agen sosialisasi lain seperti teman bermain cenderung menentang orang tua. Televisi juga cenderung memupuk perilaku antisosial. Di Soviet pesan-pesan menampilkan kesesuaian antara pesan-pesan dari berbagai agen sosialisasi seperti keluarga, sekolah dan lingkungan luar sekolah.

2.4. Bentuk-bentuk Lain Sosialisasi
Selain sosialisasi melalui keluarga, kelompok bermain, sekolah, dan media massa di atas, ada pula bentuk lain sosialisasi. Berikut diuraikan secara singkat tentang sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder, desosialisasi dan resosialisasi, cuci otak, sosialisasi antisipatoris, sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris.

2.4.1. Sosialisasi Primer dan Sekunder
Sosialisasi adalah proses seumur hidup. Makanya ada sosialisasi masa kanak-kanak (socialization for childhood), pendidikan sepanjang hidup (lifelong education), atau pendidikan berkelanjutan (continuing education) dll. Para ahli membedakan sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer atau sosialisasi dini adalah sosialisasi pertama semasa kecil untuk menjadi anggota masyarakat. Sedangkan sosialisasi sekunder adalah proses sesudahnya dimana individu diperkenalkan ke dalam sektor baru dari dunia obyektif masyarakatnya (Berger dan Luckmann).

2.4.2. Desosialisasi dan Resosialisasi
Salah satu bentuk sosialisasi sekunder ialah resosialisasi (resocialization) yang didahului proses desosialisasi (desocialization). Dalam desosialisasi seorang mengalami pencabutan diri yang dimilikinya. Dan dalam resosialisasi orang tersebut memperoleh sebuah diri baru. Proses desosialisasi dan resosialisasi ini dikatikan dengan proses yang dinamakan Goffman sebagai institusi total (total institution) seperti rumah tahanan, rumah sakit jiwa, dan lembaga pendidikan militer:
“Suatu tempat tinggal dan bekerja yang di dalamnya sejumlah individu dalam situasi yang sama, terputus dari masyarakat yang lebih luas untuk suatu jangka waktu tertentu bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung dan diatur secara formal.”

Orang yang berubah status dari orang bebas menjadi orang tahanan (narapidana) mengalami desosialisasi: kebebasannya dicabut, milik pribadi disita/disimpan penjaga, berpakaian seragam narapidana, namanya mungkin diganti nomor, dsb. Ini berdampak pada citra diri dan harga diri. Setelah proses ini ia menjalani resosialisasi yakni dididik untuk menerima aturan dan nilai-nilai baru untuk memiliki diri yang baru sesuai keinginan masyarakat (atas dasar ini nama penjara diubah tahun 1960-an menjadi lembaga pemasyarakatan).
Proses seperti ini juga dialami oleh pasien rumah sakit jiwa. Proses di lembaga pendidikan militer juga mirip di rumah tahanan. Bedanya, di militer para siswa secara sukarela dan dibina untuk menjalani profesi dengan tuntutan khusus, bukan dipaksa menjadi anggota untuk menjalani hukuman sambil diubah mentalnya. Maka meski pendidikan disitu sangat berat, di akhir pendidikan mereka merasakan kebanggaan akan profesi dan korps mereka. Orang yang bebas dari rumah tahanan akan tetap diliputi stigma, meski telah dibina keahlian dan mentalnya.

2.4.3. Cuci Otak (Brainwashing)
Cuci otak (brainwashing) juga bagian dari proses desosialisasi dan resosialisasi. Praktik ini dijumpai dalam perang. Melalui praktik penekanan fisik dan psikologis para tahanan mengalami desosialisasi (melepaskan kesetian mereka kepada tanah air) dan mengalami resosialisasi sesuai kehendak pihak yang menahan mereka. Melalui teknik pengendalian terhadap pikiran dan tindakan seperti isolasi, ancaman, siksaan dan pembatasan tidur atau makanan para tahanan diarahkan untuk membuat pengakuan palsu, mengkritik diri dan ikut serta dalam kegiatan propaganda musuh.

2.4.4. Sosialisasi Antisipatoris
Ada pula sosialisasi yang dinamakan sosialisasi antisipatoris (anticipatory socialization) seperti dikemukakan Robert K. Merton. Dia mengkaji masalah kenaikan pangkat di angkatan bersenjata AS. Seorang tentara mengharapkan kenaikan pangkat dari bintara menjadi perwira, misalnya secara mental mulai mempersiapkan diri untuk peranannya yang baru itu. Dia mulai menjalin kontak dengan para perwira, dan meninggalkan perlahan-lahan sesama bintara. Dalam proses ini dia mulai dijauhi para bintara. Namun jika ternyata dia tidak naik pangkat, dia harus kembali lagi menyesuaikan diri dengan peranan yang telah ditinggalkannya.
Sosialisasi antisipatoris ini juga kita temukan di berbagai bidang kehidupan antara lain menjelang peralihan dari jenjang pendidikan rendah ke lebih tinggi, dari dunia sekolah ke dunia kerja, dunia kerja ke pensiun, dan status sebagai gadis atau bujangan menjadi istri atau suami.

2.4.5. Sosialisasi Represif dan Partisipatoris
Ada pula sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris(Jaeger, 1977). Sosialisasi represif menekankan penggunaan hukuman atas kesalahan. Menurut Jaeger pola represif ini juga mempunyai ciri lain seperti: menekankan penggunan materi dalam hukuman dan imbalan; penekanan pada kepatuhan anak pada orangtua; penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah; menekankan keinginan orang tua.
Pola partisipatoris adalah proses di mana anak diberi imbalan manakala berperilaku baik. Hukuman dan imbalan bersifat simbolik; anak diberi kebebasan; penekanan pada interaksi; komunikasi bersifat lisan; anak jadi pusat sosialisasi; kebutuhan akan diprioritaskan; keluarga menjadi generalized other.

No comments:

Post a Comment

Silahkan baca dan share