Berita
harus akurat. Akurasi faktual berarti bahwa
setiap pertanyaan, nama, tanggal, usia, dan alamat, serta kutipan adalah
fakta yang bisa diverifikasi. Akurasi berarti ketepatan bukan hanya pada
detail spesifik tetapi juga kesan umum - detail disajikan dan cara
penekanannya. Adalah sangat mudah untuk mendistorsi arti penting dari fakta
tertentu dengan menunjukkan arti penting suatu realitas yang sesungguhnya hanya
detail tidak penting atau kurang penting. Juga mudah untuk "meremehkan"
sebuah fakta penting. Penilaian jurnalis selalu ikut serta. Itulah mengapa
objektivitas yang sempurna tidak pernah ada. Ini juga merupakan alasan mengapa
pembaca harus berfikir saat membaca.
Akurasi
sulit didapatkan sebab banyaknya fakta yang masuk dalam berita, kecepatan dalam
jurnalisme modern, dan banyaknya orang yang membantu memproduksi berita - copyreader, editor dan penyiar di
radio dan televisi yang perubahan nada suaranya mungkin mendistorsi fakta.
Penggunaan Internet sebagai medium baru, dengan kecepatan dan jangkauan
globalnya, menimbulkan konflik antar waktu yang dibutuhkan untuk mengecek akurasi
dan kemampuan untuk mendapatkan berita dengan lebih cepat. setiap medium berita
ingin menjadi yang pertama dalam menyajikan berita hangat, tetapi apakah ini
akan mengorbankan akurasi? Ini diperdebatkan oleh banyak kritikus media.
Reporter
atau wartawan harus bekerja keras mendapatkan akurasi. Mereka harus mengecek
setiap catatan, terutama detail spesifik seperti nama, tanggal, waktu, dan
alamat. Semua harus diperiksa dengan cermat, bahkan ejaan nama yang dipakai,
seperti Soeharto, Suharto atau Suharta? Apakah 17 Agustus - hari proklamasi
Republik Indonesia - adalah benar-benar pada hari Jum'at? Atau mungkin Sabtu?
Reporter
harus belajar mengajukan pertanyaan kepada narasumber dengan hati-hati.
Informan kadang salah memberi informasi, dan sering serta tak sengaja keliru
menyampaikan informasi. Reporter sekolah atau universitas seringkali tidak
cukup mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan fakta-fakta yang diperlukan guna
menulis berita yang akurat, terutama ketika mereka tidak paham tugas mereka dan
tidak berfikir masak-masak sebelum melakukan wawancara. Seorang reporter perlu
"mendiskusikan" berita dengan editor dan mengajukan pertanyaan yang
relevan untuk mengembangkan ide utama atau fokus berita. Dengan demikian, baru
reporter bisa mengajukan pertanyaan yang cerdas untuk mendapatkan detail yang
berkaitan dengan ide utama atau fokus berita.
Bagi
para pemula, sebaiknya reporter menulis ide utama dari berita dalam bentuk
kalimat sebelum melakukan wawancara. "Kaidahnya dasarnya" adalah
seorang reporter harus memahami dengan jelas tentang apa isi berita itu sebelum
melakukan wawancara. Salah satu kelemahan pers mahasiswa adalah reporternya
lebih sering mengandalkan narasumber mereka saja untuk menyampaikan berita
ketimbang mengajukan pertanyaan yang cukup selama wawancara untuk
"menggali" informasi.
Berita
semestinya berimbang. Keseimbangan isi berita adalah soal penekanan dan
kelengkapan. Reporter memberi penekanan yang tepat untuk setiap fakta,
meletakkan dalam hubungan yang tepat dengan fakta lain yang menunjukkan arti
penting relatifnya bagi ide utama atau fokus berita.
Reporter
olah raga harus benar dalam setiap pernyataan beritanya, Tetapi jika seorang
reporter hanya memberitakan tim yang didukungnya maka beritanya akan dituduh
tidak berimbang dan tidak lengkap. Seorang reporter yang meliput pemogokan guru
dengan hanya mengandalkan sumber dari guru saja tetapi tidak meminta informasi
dari departemen pendidikan nasional juga akan menghasilkan berita yang tidak
berimbang dan tak lengkap.
Berita
biasanya dianggap berimbang dan lengkap apabila reporter memberi informasi
kepada pembacanya, pendengarnya atau pemirsanya tentang semua ditail penting dari
suatu kejadian dengan cara yang tepat. Keseimbangan dan kelengkapan bukan
berarti melaporkan setiap detail. Keseimbangan adalah pemilihan detail signifikan berdasarkan penilaian yang
didasarkan pada informasi yang relatif lengkap. Tujuan berita berimbang adalah
memberi kepada pembaca, pendengar arau pemirsa pemahaman yang adil (fair)
atas suatu peristiwa bukan untuk menjelaskan setiap etail dari fakta.
No comments:
Post a Comment
Silahkan baca dan share